Pakar Epidemiologi Minta Pemerintah tak Terburu-buru Menerapkan New Normal

Pakar Epidemiologi Minta Pemerintah tak Terburu-buru Menerapkan New Normal
Warga yang mewaspadai virus corona menggunakan masker wajah. Foto : Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, SURABAYA - Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Dr Windhu Purnomo meminta pemerintah tidak terburu-buru menerapkan rencana new normal atau tatanan hidup baru.

Terutama untuk dua wilayah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya Raya dan Malang Raya.

Menurut Windhu angka penularan covid-19 tercatat masih belum bisa menjamin keberhasilan new normal.

Berdasar ketentuan perhitungan, pelaksanaan new normal life ini baru boleh ketika angka penularan di bawah 1.

Ketika angka masih di atas 1 maka masih terjadi penularan yang justru lebih berbahaya ketika dilakukan new normal.

“Jadi, harusya kita baru new normal (beraktivitas) seperti kemarin-kemarin dengan perilaku baru hanya kalau RT (angka penularan) sudah kurang dari satu. Itu harus stabil dulu selama 2 minggu, karena masih naik turun bisa terjadi second wafe lebih tinggi. Ini yang justru lebih berbahaya,” tutur Windhu.

Prediksi penurunan kasus kapan? Windhu tak bisa memastikan karena masih banyak warga yang tidak paham atau bahkan acuh terhadap protokol kesehatan yang diimbau oleh pemerintah.

Hal itu yang justru akan mempercepat penularan virus. Apabila penularan masih tinggi, Windhu menyampaikan, bukan tidak mungkin PSBB harus diperpanjang untuk ketiga kalinya.

Pakar Epidemiologi menyebut angka penularan covid-19 tercatat masih belum bisa menjamin keberhasilan new normal.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News