JPNN.com

Pancasila dan Gotong Royong Bangsa Menghadapi Pandemi Covid-19

Oleh: Dr. Ahmad Basarah, Wakil Ketua MPR RI

Senin, 01 Juni 2020 – 09:20 WIB
Pancasila dan Gotong Royong Bangsa Menghadapi Pandemi Covid-19 - JPNN.com
Wakil Ketua MPR RI Dr. Ahmad Basarah. Foto: Humas MPR RI

jpnn.com - Hari ini bangsa Indonesia memperingati Hari Lahirnya (Harlah) ke-75 Pancasila, terhitung sejak kelahirannya pada tanggal 1 Juni 1945 yang lalu. Namun, secara resmi kenegaraan bangsa Indonesia baru memperingati Harlah Pancasila pada hari ini (1/6/2020) yang ke empat kalinya berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 Tentang Hari Lahir Pancasila.

Keppres tersebut menyebutkan bahwa Pancasila, sejak kelahirannya tanggal 1 Juni 1945, mengalami perkembangan dalam naskah Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 hingga mencapai konsensus final tanggal 18 Agustus 1945 sebagai satu kesatuan proses lahirnya Pancasila sebagai dasar negara.

Kelaziman bagi semua pihak saat merayakan sebuah peringatan hari ulang tahun atas kelahirannya, baik untuk diri pribadi seseorang, organisasi ataupun sebuah negara bangsa adalah untuk dijadikan sarana refleksi, instrospeksi dan proyeksi akan sebuah makna kesejarahannya untuk perbaikan perjalanan hidup selanjutnya. 

Kontekstualisasi Nilai Gotong Royong

Pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno menyampaikan gagasannya tentang dasar falsafah negara yang ditanyakan Ketua Sidang BPUPK, Dr. Radjiman Wediodiningrat. Ada lima skema isi pidato Bung Karno tersebut, yang pertama Pancasila yakni, Kebangsaan, Kemanusiaan atau Internasionalisme, Demokrasi Musyawarah Mufakat, Kesejahteraan Sosial dan Ketuhanan.

Kemudiaan Bung Karno menjelaskan kembali bahwa lima sila Pancasila tersebut bisa diringkas menjadi Trisila yaitu, Sosio Nasionalisme (gabungan antara paham Kebangsaan dan Kemanusiaan), Sosio Demokrasi (gabungan antara paham Demokrasi dan Kesejahteraan) dan Ketuhanan.

Terakhir, Bung Karno menawarkan bahwa Pancasila dan Trisila itu bisa dirumuskan menjadi satu paham saja, yakni Gotong Royong. 

Bung Karno menjelaskan “Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong! Prinsip Gotong Royong di antara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.” 

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...
fri