Para Sinden Menangis Setelah Pesan Ki Seno Nugroho Terlaksana, Apa Itu?

Para Sinden Menangis Setelah Pesan Ki Seno Nugroho Terlaksana, Apa Itu?
Foto: diambil dari radarjogja

Tujuannya agar tak ada celah kosong selama sang dalang mengistirahatkan tubuh sejenak.

Terciptanya Gending Ladran Gajah Seno merupakan inovasi.

Joko mengatakan, Ki Seno ingin agar ada ide baru tentang gending dalam pakelirnya. Hingga akhirnya terpikirkan untuk mengolaborasi suluk dalang dan gending.

Gending tak dibuat dengan durasi panjang. Ini karena tempo untuk masuk ke sesi berikutnya sangatlah singkat. Dalam kondisi normal, Gending ini bisa dimainkan dengan durasi tiga hingga lima menit.

"Memang tidak dibuat panjang, sepraktis mungkin untuk kebutuhan pakeliran. Namun, kalau tidak disuluk oleh dalang ya bisa berputar terus. Saya aransemen jadi sajian Gending untuk istirahat dalang dan masuk ke jejer kaping pindo (kedua),” katanya.

Joko menegaskan gending ini dibuat bukanlah untuk mengantar kepergian sang dalang, sebab telah tercipta tiga tahun sebelumnya. Ditambah lagi ide dari Gending ini adalah isian selama proses mendalang.

Suasana sedih sangat terasa saat gending mulai dimainkan. Tak hanya pengrawit dan sinden, rombongan pelayat juga terbawa suasana. Isak tangis, seiring dengan pukulan gending dan nyinden yang makin keras.

Lalu perlahan lirih saat jenazah Ki Seno Nugroho berangkat menuju peristirahatan terakhirnya.

Gending ini awalnya menjadi pengiring saat Ki Seno Nugroho istirahat di tengah mendalang. Sekarang..

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News