Pemijat Tuna Netra Berkisah tentang Putranya yang Lulus Test IPDN

Pemijat Tuna Netra Berkisah tentang Putranya yang Lulus Test IPDN
Chalikul Hafiz, praja IPDN angkatan 2014 bersama kedua orang tuanya. Foto: Ken Girsang/JPNN

Ia yang memiliki kekurangan fisik pun bahkan sampai mengantarkan Chalikul mengikuti test ‎yang dilakukan di sejumlah daerah di luar Jatinangor.

"‎Itu kan ujian psikotestnya di Siliwangi, saya antar. Kami bermalam di rumah teman karena jam enam pagi sudah harus berada di lapangan. Kemudian test kesehatannya di Cimahi, saya juga antar dan bermalam di rumah kawan saya lain. Untung punya banyak teman, jadi tidak harus mengeluarkan uang yang banyak hanya untuk tempat tidur semalam," ujarnya.

Usaha tidak hanya sampai di situ. Gozali dan istri yang merupakan orang Subang asli, setiap malam sholat tahajud. Demikian juga Chalikul, melakukan hal yang sama.

"Ternyata doa kami dijawab Allah, Chalikul diterima. Itu rasanya susah diceritakan mas. Sedih, bangga, terharu, semua campuraduk jadi satu. Bahagia karena di IPDN itu sudah jelas enggak harus cari-cari kerja kalau sudah tamat," ujarnya.

Pasangan suami-istri yang berkenalan saat kursus memijat ini begitu bahagia, karena selama ini mereka bekerja banting tulang agar putra-putri tercinta tak bernasib sama. Caranya, menyekolahkan setinggi-tingginya, walau untuk biaya sekolah sering harus menunggak jika tidak punya uang.

"Penghasilan enggak tentu, kosong seminggu juga pernah. Yang namanya pijat kan enggak kayak makanan.Tapi kami pengin anak-anak lanjut sampai ke perguruan tinggi. Pernah guru nanya kenapa enggak pakai kartu perlindungan sosial. Dia minta ditanyakan ke kecamatan. Tapi ternyata pegawai kecamatan bilang, itu yang mendata dari RT/RW, ternyata enggak terdata," ujarnya.

Mendapati kenyataan tersebut, Gozali tak patah semangat. Hasil doa dan ketulusan kini berbuah manis. Kini Chalikul diterima sebagai praja untuk menjalani pendidikan ilmu pemerintahan dengan dibiayai oleh negara.

"Kalau nanti setelah lulus ditempatkan di luar daerah, enggak apa-apa. Memang harus siap. Di mana saja yang penting sehat. Anak saya nomor dua bernama Khairunnisa Nurul Hidayah. Kini kelas tiga SMA Negeri Jatinangor dan selalu ranking. Ia ingin melanjutkan sekolah ke ITB. Sebetulnya pengin ke IPDN juga, tapi matanya ada minus. Kalau postur badannya tinggi besar," ujarnya.

AROMA minyak gosok masih cukup kental memenuhi ruangan kecil berukuran tak lebih dari 2x2 meter, menyempil di gang sempit yang terletak persis di

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News