Peneliti: Kolaborasi dan Motivasi Kunci Kemandirian Ekonomi KPM PKH di Tiga Kota

Peneliti: Kolaborasi dan Motivasi Kunci Kemandirian Ekonomi KPM PKH di Tiga Kota
Pendamping menjadi instrumen penting dalam pemberdayaan KPM PKH. Foto: Kemensos

Di Kabupaten Ciamis, KPM PKH Graduasi menerima pembinaan kewirausahaan dengan mengembangkan makanan tradisional ceriping dari ketela, gula aren dan kue.

“Mereka dibimbing oleh praktisi mulai dari cara produksi, keterampilan mengolah, pengemasan produk, dan pemasarannya. Demikian pula, pendamping menghadirkan motivator agar KPM memiliki semangat dan kesungguhan untuk keluar dari kemiskinan,” kata Edi Suhanda, anggota tim peneliti.

Penyuluhan sosial yang telah dilakukan di tiga kabupaten tersebut telah membuka ruang kemandirian pada KPM PKH.

Mereka menyatakan diri sudah keluar dari ketergantungan, keluar dari kemiskinan, ada motivasi diri untuk berubah, motivasi untuk tidak miskin lagi.

“Kemiskinan hanya bisa diatasi oleh dua hal , yakni kemauan dari orang miskin itu sendiri, dan pendampingan, penyuluhan yang berjalan sistematis dan terukur,” kata peneliti lainnya, Benny Setia Nugraha.

Dia menambahkan, tidak mudah mengatasi kemiskinan, banyak kolaborasi yang harus dibangun baik dari sisi political will, sosio-demografis wilayah, sosio kultural sampai pada diri dari para warga miskin itu sendiri.

Selain itu, motivasi juga dinilai berperan penting.

“Penting untuk menyampaikan pada orang miskin bahwa 'kita bukanlah budak dari nasib'. Pada bagian lainnya bagaimana penyuluhan mengarahkan pada penguatan motivasi, passion (gairah) dan tidak mudah menyerah,” katanya.

Ketiga peneliti berpendapat, pendamping menjadi instrumen penting dalam pemberdayaan KPM PKH dengan model kegiatan yang sifatnya in door maupun out door .

Tiga peneliti dari Poltekesos Bandung menilai pendamping menjadi instrumen penting dalam pembedayaan KPM PKH.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News