Pengalaman Warga RI Belasan Tahun Hidup di Korea Utara

"Yang membuat saya terkejut ketika pertama kali datang ke sini, setiap jam 9 malam lampu mati semua," katanya, mengenang saat datang ke Korut tahun 2002.
"Kita tidak bisa masuk ke toko-toko di pinggir jalan. Kita tidak bisa bersosialisasi dengan masyarakat sini," tambahnya.
Namun saat ini, katanya, Andry sudah bisa ke toko membeli kebutuhan sehari-hari.
"Kami juga bermain di taman berbaur dengan mereka. Tapi memang tidak bisa sembarang foto-foto," katanya.
Mengenai pendidikan untuk anak-anak orang asing, mereka masuk sekolah internasional, yang menurut Andry tak kalah dibanding dengan yang ada di negara lain.
"Kurikulumnya standar international, ada Bahasa Inggris, Bahasa Korea, kimia, dll. Total 10 mata pelajaran anak saya," katanya.
"Sekolahnya gratis, tidak ada SPP. Tapi jika orangtua murid ingin pelajaran ekstra, mereka harus membayar," ujarnya.

- Industri Alas Kaki Indonesia Punya Potensi Besar, Kenapa Rawan PHK?
- Apa Arti Kemenangan Partai Buruh di Pemilu Australia Bagi Diaspora Indonesia?
- Dunia Hari Ini: Presiden Prabowo Ucapkan Selamat Atas Terpilihnya Lagi Anthony Albanese
- Mungkinkah Paus Baru Datang dari Negara Non-Katolik?
- Partai Buruh Menang Pemilu Australia, Anthony Albanese Tetap Jadi PM
- Dunia Hari Ini: Israel Berlakukan Keadaan Darurat Akibat Kebakaran Hutan