Peran Santri di Masa Krisis

Oleh: Wakil Ketua MPR Dr Jazilul Fawaid, S,Q., M.A.

Peran Santri di Masa Krisis
Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid. Foto: Ist for jpnn.com

Modalitas yang ketiga adalah komitmen yang kuat untuk menyelaraskan ilmu pengetahun dan teknologi (Iptek) dengan keimanan dan ketaqwaan (Imtaq). Perkembangan Iptek dewasa ini sungguhlah pesat, apalagi dikatalisasi oleh globalisasi dan revolusi 4.0. Dengan Iptek yang tinggi, segala kebutuhan dapat dipenuhi secara praktis dan efisien.

Di era pandemi ini misalnya, setiap negara berlomba-lomba untuk menemukan obat dalam menangani Covid-19. Namun demikian, Iptek yang dikembangkan tak akan membawa kemaslahatan apabila tidak diimbangi dengan penguatan Imtaq.

Tanpa Imtaq yang baik, obat Covid-19 dapat dikomersialisasi dan dikomodifikasi bagi kepentingan segelintir pihak yang menemukan. Tanpa Imtaq yang baik, kemajuan Iptek dapat disalahgunakan untuk mencapai keuntungan dengan melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan. Inilah yang menjadi modalitas penting yang dimiliki oleh kaum santri dalam mengawal kontribusi mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Masih banyak lagi modalitas lainnya yang dimiliki oleh para santri mengingat mereka adalah kaum yang sangat berkhidmat menggali nilai-nilai luhur agama dan budaya bangsa. Namun demikian, ketiga hal di atas adalah modalitas paling dasar dan relevan yang dimiliki oleh kaum santri untuk berkontribusi nyata dalam merespons situasi krisis yang dihadapi oleh Indonesia saat ini, utamanya krisis akibat pandemi Covid-19.

Dengan ketiga modalitas tersebut, kaum santri diharapkan dapat menjadi suluh bagi masyarakat untuk tidak berputus asa dalam melawan situasi krisis hari ini, terus melakukan kegiatan positif dan produktif, merekat persatuan dan kesatuan bangsa, serta senantiasa mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran pandemi Covid-19. Selamat hari santri 22 Oktober 2020. Santri sehat Indonesia kuat.(*/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:

Dalam konteks politik dan hukum, situasi Indonesia hari ini juga tidak bisa dikatakan bebas dari krisis.


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News