Kamis, 13 Desember 2018 – 15:19 WIB

Perasaan Drg Mieke Sylvia saat Identifikasi Korban Lion Air

Minggu, 25 November 2018 – 11:04 WIB
Perasaan Drg Mieke Sylvia saat Identifikasi Korban Lion Air - JPNN.COM

jpnn.com, SURABAYA - Ada satu orang Surabaya yang tergabung dalam tim DVI Mabes Polri dalam proses identifikasi jenazah korban Lion Air. Dia adalah Prof Dr drg Mieke Sylvia Margaretha Amiatun Ruth MS SpOrt. Saat melakukan tugasnya, perasaan Mieke selalu campur aduk. Bagaimana jika yang menjadi korban adalah dia atau keluarganya.

''Selalu terpikir seperti itu. Manusiawi,'' katanya. Apalagi, jika kemudian dia harus berkomunikasi dengan keluarga korban. Itu adalah sesuatu yang tak bisa dihindari. Untuk mencocokkan data antemortem dan postmortem, dia harus berinteraksi dengan keluarga.

Reaksi keluarga yang sedih dan berharap-harap cemas menunggu kepastian selalu membuat siapa pun trenyuh. Mieke selalu teriris ketika harus bersirobok mata dengan keluarga korban. Antara mengharap kepastian kematian kerabatnya dan menolak kenyataan yang berat tersebut.

Keluarga korban memang selalu dihadapkan pada pilihan yang mengiris perasaan. Mereka selalu berharap tidak ada potongan tubuh dan jenazah yang merupakan keluarganya.

Di sisi lain, jika memang keluarganya jadi korban, harus segera ada kepastian. Sebab, itu menyangkut masalah administrasi hukum yang tak ringan.

Jika korban tak teridentifikasi, keluarganya mengurus surat kematian dengan cara ribet. Mereka harus mengajukan ke pengadilan untuk mendapatkan surat tersebut. Padahal, surat kematian penting untuk mengurus apa saja. Mulai pembagian warisan, santunan, dan hal-hal administratif lainnya pasca kematian yang bersangkutan. Kepastian juga penting agar jenazah bisa secepatnya dikembalikan ke keluarganya untuk diberi penghormatan terakhir yang layak. 

''Makanya, pilihan saya adalah bekerja sebaik-baiknya, secepat-cepatnya, dan selengkap-lengkapnya untuk melakukan identifikasi,'' kata Mieke. Cara tersebut memang berhasil membuatnya fokus dalam melakukan identifikasi. Namun, itu tetap saja tidak sepenuhnya berhasil menghilangkan perasaannya yang berkecamuk.

Perempuan 68 tahun tersebut memang dikenal sebagai salah seorang pakar odontologi forensik di Indonesia. Forensik adalah bidang yang baru digelutinya empat tahun belakangan ini. Yakni, persis ketika FKG Unair membuka departemen odontologi forensik. Mieke langsung ditunjuk sebagai kepalanya.

Mieke mempunyai dasar yang kuat di ortodontis. Dia sudah 39 tahun menjadi dosen ortodontis. Itulah yang membuatnya bisa cepat melakukan upgrading di bidang ortodontis forensik. Dia belajar secara langsung ke sejumlah negara yang bidang forensiknya sudah sangat maju.

Karena itu, tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri meliriknya. Dia pun diminta bergabung dan siap kapan pun jika dibutuhkan. ''Tawaran tersebut saya sambut dengan senang hati. Sebab, tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang akademisi selain mengaplikasikan ilmunya,'' ucapnya dengan mata berbinar.

Menurut dia, salah satu yang membuat identifikasi jenazah melalui gigi di Indonesia masih sangat sulit dilakukan adalah habit masyarakat. Tidak banyak warga yang mempunyai kesadaran untuk ke dokter gigi dan menyimpan catatan formasi giginya. Padahal, selain sidik jari dan DNA, bentuk gigi adalah salah satu metode yang paling akurat dalam identifikasi.

Untuk itu, kadang dia berimprovisasi saat melakukan identifikasi. Selain catatan rekam medis gigi (jika beruntung korban pernah ke dokter gigi dan rekam medisnya masih disimpan), dia menggunakan foto-foto korban semasa hidupnya. ''Jika tersenyumnya cukup lebar, biasanya ada hal-hal khas di gigi yang bisa diidentifikasi,'' tuturnya.

Mieke pun menyatakan akan selalu siap jika tim DVI membutuhkannya kapan pun. ''Selagi saya masih mampu melakukannya, pasti akan saya lakukan. Membantu sesama adalah kewajiban tiap manusia,'' ungkap perempuan kelahiran Solo tersebut. (SITI JAUHAROH KARTIKA SARI/c20/ano) 

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar