JPNN.com

Peristiwa Karhutla, Jangan Terus Jadi Tamu Tahunan yang Menghantui Masyarakat

Minggu, 20 Oktober 2019 – 23:58 WIB Peristiwa Karhutla, Jangan Terus Jadi Tamu Tahunan yang Menghantui Masyarakat - JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Fenomena kebakaran lahan di Indonesia seolah-olah telah menjadi agenda tahunan yang kerap terjadi di musim kemarau. Meskipun pemerintah telah berupaya melakukan pencegahan dan penindakan terhadap pelaku pembakaran, peristiwa ini masih kembali dan terjadi lagi hampir setiap tahun khususnya beberapa daerah di pulau Sumatera dan Kalimantan.

Berdasarkan analisis citra satelit landsat 8 OLI/TIRS yang di overlay dengan data sebaran hotspot, serta laporan hasil groundchek hotspot dan laporan pemadaman yang dilaksanakan Manggala Agni yang dipublikasikan oleh website Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), hingga hari ini terdapat lahan seluas 328.722,00 ha terbakar di Indonesia. Mayoritas titik api yang muncul berada di areal lahan gambut.

Gambut merupakan lapisan tanah yang terbentuk dari bahan-bahan organik seperti tumbuhan yang membusuk dan terdekomposisi dalam waktu yang cukup lama.
Budaya pembukaan lahan dengan cara membakar sebetulnya sudah ada sejak zaman nenek moyang , dahulu kala.

Ghat Khaleb, Sekjen Dewan Adat Besar Krayan Hulu, Kalimantan Utara mengakui bahwa memang masyarakat Dayak di pedalaman melakukan pembakaran lahan, tetapi dalam area dengan luasan yang terbatas. “Hanya sekadar mencari makan untuk berkebun, itu juga sangat terkendali,” katanya seperti dilansir dalam siaran pers, Minggu (20/10).

Gat Khaleb juga mengatakan meski warga Dayak membakar hutan, penduduk pedalaman sangat memperhitungkan kelestarian hutan, lahan-lahan milik masyarakat sekedar untuk makan sehari-hari dan tidak untuk usaha besar.

Dia menambahkan hutan bagi warga pedalaman ibarat tanjung kehidupan, tanpa mengambil sebagian lahan hutan. “Mereka tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidup dan cara ini telah ada sejak leluhur kami ratusan tahun lalu,” katanya.

Seorang petani sawit bernama Ajew (24 tahun) di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, Kalimantan Timur pada Senin (4/10/2019) mengatakan masyarakat sekitar yang melakukan pembakaran lahan tidak pernah menyebabkan asap yang merugikan orang banyak. Mereka selalu membuat parit di tepian lahan yang dibakar untuk mencegah pembakaran melebar.

“Luasnya juga paling hanya satu hektaran,” ujarnya.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...