Pernikahan Mubarakah: Detik-detik Arifin Cium Kening Karima

Pernikahan Mubarakah: Detik-detik Arifin Cium Kening Karima
Pernikahan Mubarakah: Muhammad Arifin Saddoen (kiri) pertama kalinya melihat wajah istirinya, Nur Aisyah Karima (gaun putih). Foto: FUAD MUHAMMAD/KALTIM POST/JPNN.com

Grade ini menentukan klasifikasi calon mempelai. Disusun sejak enam bulan lalu, ketika pelamar pertama kali mendaftarkan diri. Pertama dari sisi fisik. Akan di-ranking dari yang paling ganteng hingga yang wajahnya pas-pasan. Dari yang paling cantik hingga yang kurang menarik. Dari yang bertubuh ideal hingga yang tampak malas berolahraga.

“Tidak bisa dinafikan. Fisik merupakan faktor penting untuk mencari pasangan ideal,” kata pria 66 tahun itu.

Kemudian usia. Setiap pasangan diusahakan memiliki jarak usia yang menurut mereka pas. Misal dalam kasus Arifin dan Karima. Arifin berusia 27 tahun. Sementara Karima berusia 21 tahun. Bukan jarak yang dekat atau jauh menurut mereka.

Karena usia bisa memengaruhi mental kepatuhan istri kepada suami. Masing-masing pasangan lantas disesuaikan dengan tingkat pendidikannya. Ini berlaku sebagai bentuk cara berpikir masing-masing mempelai.

“Tentu ditunjang dengan karakter calon. Makanya kami banyak melakukan sesi wawancara. Mengetahui betul bagaimana keilmuan, cara berpikir dan psikologis mereka,” terang Amin.

Selama lima kali dipercaya sebagai steering commite, Amin menyebut pihaknya tak menutup ruang bagi pasangan jika memang punya permintaan khusus. Misalnya, si perempuan minta suami dari suku tertentu atau menghindari suku lainnya. Tentu disertai dengan dasar yang logis. Jika memang tidak bisa memberikan keinginan tersebut, pihaknya akan memberi tahu si perempuan.

“Ada yang minta dicarikan suami yang murah senyum. Kebetulan ada,” sebutnya.

Sementara kebanyakan calon pengantin pria ingin punya istri yang cantik dan putih. Namun, pihaknya jarang mengabulkan permintaan yang satu ini. Begitu pula dengan duda yang ingin sekali menikahi gadis perawan. Bisa diusahakan. Namun jika ada penolakan dari pihak perempuan, hal itu tak bisa dipaksakan.

Tradisi pernikahan mubarakah dijalankan di Pondok Pesantren Hidayatullah di Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan Tmur.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News