Pesawat N219 Kurang Dana untuk Penuhi Jam Terbang

Pesawat N219 Kurang Dana untuk Penuhi Jam Terbang
Pesawat N219 diterbangkan Captain Esther Gayatri Saleh melakukan Uji Terbang Perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Rabu (16/8). Foto: RIANA SETIAWAN /RADAR BANDUNG/JPNN.com

Dia mengatakan, sedang dikaji klausul-klausul pendanaan riset pesawat N219. Di antaranya melibatkan pihak swasta.

Tinggal bagaimana membuat regulasi supaya pihak swasta bisa masuk bersama Lapan dan PT Dirgantara Indonesia (DI) selaku pelaksana proyek pesawat nasional N-219.

Kepala Kapan Thomas Djamaluddin membenarkan bahwa kondisi saat ini ada kekurangan biaya sertifikasi.

Dia menjelaskan di Lapan sejatinya ada biaya sertifikasi pesawat N219 di APBN. Tetapi jumlahnya tidak cukup.

"Untuk sertifikasi butuh 340 jam. Tahun lalu sudah 16 jam terbang," jelasnya.

Di Lapan sudah ada anggaran untuk jam terbang sertifikasi sebesar Rp 37,4 miliar. Dia mengungkapkan dana itu masih kurang Rp 81,8 miliar. Sebab, total biaya untuk sertifikasi terbang mencapai Rp 119 miliar.

Untuk mempercepat proses sertifikasi, kewajiban 340 jam terbang akan dikebut dengan dua unit pesawat N219. Untuk pesawat unit kedua, direncanakan sudah siap terbang pada Maret-April depan. "InsyaAllah 2018 (proses sertifikasi, red) tuntas," katanya. (wan/ttg)

 

Pesawat N219 (Nurtanio) butuh 340 jam terbang untuk syarat sertifikasi. Sekali terbang dibutuhkan anggaran sampai Rp 250 juta.


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News