Piket Nol

Piket Nol
Dahlan Iskan (berkaus hitam di tengah) bersama Durian Travellers. Foto: disway.id

"Teman saya di Medan juga sudah mulai melakukan itu," tambahnya.
"Di sana cara itu disebut apa?" tanya saya.

"Kami tidak tahu apa itu pentil. Atau apa itu buang pentil. Proses itu kami sebut pruning," ujar Pak Akhiong. Buah durian, ketika baru sebesar bola tenis atau bola takraw harus dipruning.

Akhiong pun mengirimkan foto-foto hasil pruning itu. Saya lihat, durian yang di-pruning memang sudah bukan pentil lagi. Sudah lebih besar dari pentil.

Mungkin yang dilakukan Pak Yanto lebih baik: di-pruning ketika masih pentil. Ketika baru sebesar bolanya Alay.

Kan, sayang, nutrisi pohon sudah telanjur banyak terserap di buah itu baru dibuang.

Mungkin juga mereka yang di Bangka dan Medan itu yang benar: kalau masih terlalu pentil bagaimana bisa tahu mana yang perkembangannya kurang baik?

Cara Bangka itu bisa lebih yakin memilih mana pentil yang memang harus dibuang.

Dari Malang saya berangkat duluan menuju Lumajang. Saya memilih jalur yang lebih panjang: memutar ke arah selatan Gunung Semeru. Ingin tahu saja.

Makan durian itu harus seperti makan es krim. Dicucup lembut, halus, sedikit sedikit, dengan bibir dan lidah, sambil mata agak terpejam.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News