Polisi Percuma

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Polisi Percuma
Ilustrasi Polri. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - Lapor kehilangan ayam malah kehilangan kambing, lapor kehilangan kambing malah kehilangan sapi, lapor kehilangan sapi malah kehilangan motor.

Begitu bunyi pameo mengenai ruwetnya lapor ke polisi. Urusan tidak cepat ditangani, tetapi malah pelapor keluar uang lebih banyak.

Itu bukan kejadian di Indonesia. Polisi yang tidak responsif itu hanya ada di cerita film India. Atau kejadian itu hanya dijumpai di Republik Tanzania di Afrika.

Di Indonesia polisi sudah baik, meskipun sesekali masih ada yang brengsek. Misalnya Randy Bagus yang memerkosa mahasiswi sampai hamil dua kali lalu memaksa aborsi, sampai akhirnya mahasiswi itu mati bunuh diri di makam ayahnya.

Pameo kehilangan ayam itu sangat populer di masa lalu. Sekarang polisi sudah berbenah untuk memperbaiki citra itu. Polisi mengaku sudah bekerja keras melakukan trust building supaya lebih bisa dipercaya oleh masyarakat.

Sebuah survei Saiful Mujani Reasearch Center (SMRC) menempatkan polisi sebagai institusi yang paling kurang dipercaya, itu adalah bagian dari proses.

Seminggu terakhir muncul tagar ‘’Percuma Lapor Polisi’’ di media sosial. Tagar menjadi viral setelah muncul berita penghentian kasus penyidikan dugaan perkosaan seorang bapak terhadap tiga anak kandungnya di Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Polisi menghentikan penyidikan kasus itu karena tidak cukup bukti.

Pada kejadian lainnya polisi meminta ganti pungli dengan beberapa butir durian dari sopir yang melanggar aturan lalu lintas.