Politik Memecah Belah Negeri, Presiden Haiti Ditembak Mati

Politik Memecah Belah Negeri, Presiden Haiti Ditembak Mati
Pengunjuk rasa berlari melewati ban yang dibakar saat aksi unjuk rasa menuntut pengunduran diri Presiden Haiti Jovenel Moise, pada peringatan ke-217 Pertempuran Vertieres, pertempuran utama terakhir kemerdekaan Haiti dari Prancis, di Port-au-Prince, Haiti, Rabu (18/11/2020). Foto: REUTERS/Andres Martinez Casares/WSJ/djo

jpnn.com, PORT-AU-PRINCE - Presiden Haiti Jovenal Moise ditembak mati oleh penyerang tak dikenal di kediaman pribadinya, Selasa (6/7) malam.

"Aksi tidak manusiawi dan barbar," kata Perdana Menteri Sementara Claude Joseph mengenai insiden menggemparkan itu, Rabu (7/7).

Istri Moise terluka dalam peristiwa itu dan mendapat perawatan medis, kata Joseph dalam sebuah pernyataan.

Serangan itu terjadi di tengah meningkatnya gelombang kekerasan terkait politik di negara Karibia yang miskin itu.

Dengan situasi Haiti yang terpecah secara politik, ditambah krisis kemanusiaan dan kelangkaan makanan, ada kekhawatiran kekacauan makin meluas.

"Semua tindakan diambil untuk menjamin kelangsungan negara dan untuk melindungi bangsa," kata Joseph.

Suara tembakan terdengar di seluruh ibu kota. Port-au-Prince mencatat aksi kekerasan meningkat ketika geng-geng saling berperang dan polisi menguasai jalan-jalan.

Kekerasan itu dipicu oleh meningkatnya kemiskinan dan ketidakstabilan politik.

Dengan situasi Haiti yang terpecah secara politik, ditambah krisis kemanusiaan dan kelangkaan makanan, ada kekhawatiran kekacauan makin meluas

Sumber Antara