Prediksi Arya Tentang Reshuffle Kabinet Indonesia Maju

Prediksi Arya Tentang Reshuffle Kabinet Indonesia Maju
Peneliti politik CSIS Arya Fernandez (tengah) bersama anggota DPR RI Arkanata Akram dan Ekonom Indef Bhima Yudhistira saat diskusi bertajuk "Kabinet Indonesia Maju dan PR Bangsa" di Media Center DPR, Rabu (30/10). Foto: JPNN

“Untuk itu, reshuffle juga mungkin terjadi karena mungkin terkait soal evaluasi, dengan begitu kita butuhkan satu lembaga kepresidenan yang kuat, yang dari hari ke hari bisa melakukan, memberikan masukan kepada presiden, evaluasi presiden terkait kabinet ini menjadi terukur. saya kira itu,” ujar Arya.

Dalam diskusi tersebut, anggota Komisi VII DPR RI Arkanata Akram berharap para menteri dan wakil menteri pada Kabinet Indonesia Maju, terutama yang masuk dalam tim ekonomi, mampu bekerja maksimal untuk dapat mewujudkan visi dan misi Presiden menuju Indonesia Maju.

“Apakah itu sebuah ‘dream team’ atau bukan, saya kira Bapak Jokowi yang sudah pernah menjadi Presiden sebelumnya dari 2014-2019 juga memiliki pengalaman yang cukup, pengalaman yang juga tidak bisa dikatakan sedikit, sehingga dia sudah tahu permasalahan apa saja yang akan dihadapi," kata Arkan.

Terkait kemungkinan akan adanya reshuffle pada Kabinet Indonesia Maju, Politikus milenial Partai NasDem tersebut memandang hal tersebut menjadi hak prerogatif Presiden untuk menentukannya, berdasarkan kinerja yang dibuktikan.

“Itu menjadi hak prerogatif Presiden, sehingga kita kembalikan lagi ke presiden. Tugas kami saat ini adalah selalu mendukung,” ungkap Arkan.

Sementara itu, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai tim ekonomi yang ditunjuk Presiden Joko Widodo kurang ideal untuk merespon tantangan ekonomi domestik maupun global.

“Karena ada tekanan partai politik, kabinet yang harusnya diisi oleh profesional, khususnya kami mencermati bidang ekonomi, yang bisa diandalkan justru hanya satu orang yakni Ibu Sri Mulyani Indrawati,” kata Bhima.

Kendati demikian, kinerja tim ekonomi Jokowi perlu diberi waktu untuk membuktikan kinerjanya, yang nantinya dapat diukur dengan indikator-indikator ekonomi, di antaranya data neraca perdagangan.

Pengamat politik CSIS Arya Fernandez menilai perombakan kabinet atau reshuffle mungkin terjadi di kepemimpinan kedua Jokowi karena Presiden ingin memaksimalkan kerja para pembantunya di kabinet.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News