Produksi Pertanian Terancam

Produksi Pertanian Terancam
Produksi Pertanian Terancam
Bondan menjelaskan, pasokan air bagi para petani di Kota Mataram memang sering menjadi kendala. Seringnya saluran air dibendung membuat petani kebingungan. Di sisi lain, sambungnya, kondisi air sendiri juga terus mengalami degradasi kualitas, akibat banyaknya limbah rumah tangga yang dibuang ke sungai. ‘’Banyak tantangan para petani Kota Mataram di tengah upaya mempertahankan produktivitas beras di atas lima persen rata-rata nasional,’’ ujarnya.

Selain air, lanjut Bondan, penyempitan lahan pertanian juga menjadi tantangan tersendiri. Luas lahan pertanian yang hanya 2.264 hektare dihadapkan dengan semakin digalakkannya bangunan perumahan. Sulit air dan penyempitan lahan ini memang secepatnya harus disiasati. ‘’Para petani pun banyak memberikan apresiasi adanya lahan abadi di Lingkar Selatan sekitar 25 hektare. Ini bisa menekan alih fungsi sawah ke tanaman beton,’’ katanya lagi.

Bondan mengatakan, petani melalui kelompok tani (poktan) telah memulai dengan memperhatikan prosedur tanam, pola tanam, dan bibit pertanian yang digunakan. Seperti bibit padi yang digunakan antara lain Hibrida, Impari 13, dan Sibagendet, yang sangggup menghasilkan gabah kering panen sampai delapan  ton lebih.     ‘’Nah, untuk soal kendala air, maupun penyempitan lahan untuk sementara diatasi dengan penyediaan bibit berkualitas,’’ pungkasnya. (feb)

MATARAM-Kesulitan air yang dihadapi sejumlah petani di Kota Mataram sudah disampaikan kepada Badan Ketahanan Pangan Pengawas Penyuluh Pertanian dan


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News