Prof Jimly Asshiddiqie: RUU Ciptaker Bikin Kacau di Tengah Kekacauan

Prof Jimly Asshiddiqie: RUU Ciptaker Bikin Kacau di Tengah Kekacauan
Prof Jimly Asshiddiqie. Foto: Ricardo/JPNN.com

Bagaimana soal RUU Ciptaker yang masih ditolak oleh kaum buruh? Bagaimana sebaiknya pemerintah merespons?

Pemerintah kan sudah tahu sikap buruh itu, tetapi mereka bersikukuh bahwa RUU ini diperlukan untuk mengatasi problematika ekonomi. Jadi, ya kita hormati saja kalau menurut saya. Kan perdebatannya sudah. Kan pemerintah tahu, bukan tidak tahu. Tetapi ini perspektifnya beda, sudut pandang cara melihatnya itu beda.

Tidak ada titik temu antara buruh dengan pemerintah?

Bukan hanya dengan buruh, dengan semua. Aktivis lingkungan, juga aspirasi daerah. Ini kan penyeragaman. Jadi, cara pandangnya sama sekali berbeda. Bukan tidak tahu, tentu negara itu kan melihat masalahnya lebih luas, melihat juga tangangan yang terjadi di luar negeri. Melihat juga hal-hal yang plus minusnya yang lain.

Jadi keberatan-keberatan dari daerah, dari aktivis lingkungan, aktivis hak asasi manusia itu sudah disuarakan semua, sudah lengkap. Saya kira tidak bisa kita menganggap tidak. Walaupun di tengah pandemi, tetapi tetap pemerintah punya sikap. Begitulah kira-kira.

Merespons situasi pasca pengesahan, kalau mogok buruh berlangsung lama kan bisa berdampak ke ekonomi. Bikin tambah parah?

Ya karena memang ekonomi kita kan sedang kolaps. Jadi, kalau dia kolaps gara-gara demo ini, praktis sebenarnya sudah 60 persen mogok juga karena covid kan. Dengan adanya gerakan mogok terhadap RUU yang disahkan ini, menjadi katakanlah dari 60 menjadi 90 persen.

Jadi makin parah ini?

Prof Jimly Asshiddiqie menyampaikan pandangannya soal Omnibus Law RUU Cipta Kerja yang menimbulkan polemik.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News