Raja Tempe Maling Hati untuk Tamunya

Oleh Dahlan Iskan

Raja Tempe Maling Hati untuk Tamunya
Rustono, pembuat tempe di Jepang bersama istrinya di Kyoto. Foto: disway.id

Rustono memang berasal dari sebuah desa di Grobogan, Jateng. Tepatnya Desa Kramat, dekat Mrapen: asal api abadi untuk setiap ada PON itu.

Orang tuanya petani. Bersaudara 10 orang. Rustono yang nomor 9. Saat kecil ayahnya meninggal. Sang ibu sendirian: membesarkan 10 anaknya.

Begitu tamat SMAN Grobogan Rustono ke Jakarta. Ikut bibinya. Sambil kuliah di Universitas Sahid. Jurusan perhotelan.

Kerja di Sahid Hotel Jogja adalah penugasan pertamanya. Ia anak yang hemat. Dua tahun kerja sudah bisa beli mobil bekas: Jip Willy’s.

Ia tukangi Willy’s-nya itu. Jadi mobil yang keren. Ia memang tipe orang yang tidak bisa diam.

Rustono selalu melayani tamu hotel dengan hatinya. Tamu yang ulang tahun ia beri bunga. Yang ia petik dari taman. Ia taruh dalam gelas yang ada airnya. Ia ucapkan selamat ulang tahun pada tamunya.

Demikian juga kalau ada tamu yang lagi berbulan madu. Rustono ringan kaki. Membantu apa saja untuk membuat tamunya senang.

Suatu saat ada tamu dari Jepang. Wanita muda, umur 29 tahun. Sendirian. Rustomo menyapanya dengan keramahan khasnya: keramahan yang ia pertahankan sampai sekarang.

Rustono bekerja di Hotel Sahid Jogja. Dia selalu mimpi: meningkatkan derajatnya. Bisa kawin dengan salah satu tamunya. Atau anak tamu hotelnya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News