Rukun, Halal Halalbihalal Pun Kebanyakan Pastor dan Suster yang Datang

Rukun, Halal Halalbihalal Pun Kebanyakan Pastor dan Suster yang Datang
TOLERANSI TINGGI: Budiarman Bahar (kiri) menjabat tangan Paus Fransiskus dalam sebuah acara di Vatikan. (Dok KBRI Vatikan)

Nah, tahun ini Budiarman bersama keluarga harus kembali menjalankan ibadah puasa dan berlebaran di Vatikan. Menurut diplomat murni itu, tidak ada yang berbeda secara signifikan dalam berpuasa dan berlebaran di kota suci bagi umat Katolik itu. Umat Islam di sana bebas menjalankan ibadah yang dituntunkan agama.

”Meski di sini umat Islam termasuk minoritas, kami bebas beribadah. Tidak ada larangan apa-apa. Bahkan, kami dihormati,” ujarnya.

Luas Vatikan hanya 44 hektare dengan penduduk 800 jiwa yang tinggal di kota itu. Memang, tercatat pula sekitar 2.200 warga lainnya. Namun, mereka tinggal di luar Vatikan, misalnya di Roma dan kota-kota lain di Italia. Termasuk para kardinal dan 82 kantor kedutaan besar untuk Vatikan.

KBRI sendiri berada di Via Marocco Nomor 10, Roma, yang berjarak 50 menit dari Vatikan. Sebagai Dubes RI untuk Vatikan, Budiarman dan para Dubes negara lainnya sering mendapat undangan untuk mengikuti upacara-upacara yang terkait dengan agama Katolik. Misalnya perayaan Natal dan Paskah. Dia pun mengaku beruntung selama empat tahun bertugas di sana bisa menyaksikan secara langsung upacara-upacara yang dipimpin pimpinan tertinggi di Takhta Suci Vatikan itu.

”Selain saya, banyak juga Dubes dari negara Islam seperti Iran, Mesir, dan Libya. Kami biasanya berkumpul untuk menyaksikan dan mengikuti prosesi upacara itu,” papar diplomat yang pernah bertugas di Meksiko, Spanyol, Korea Selatan, Yaman, Turki, dan Australia tersebut.

Budiarman juga menceritakan pengalamannya berpuasa dan berlebaran di Vatikan. Menurut dia, memang tidak ada perbedaan dalam tatanan kehidupan masyarakat Vatikan selama Ramadan. Maklum, hampir 100 persen warga Vatikan merupakan pemeluk Katolik. Meski begitu, dia dan keluarga bisa menjalankan ibadah tersebut dengan baik. Apalagi, di Vatikan ada budaya, saat menjamu tamu tidak perlu memberikan suguhan air maupun jajanan.

”Sehingga saya tidak perlu susah-susah menolak untuk tidak meminum atau memakan jajanan karena sedang berpuasa. Toh, di sana budaya menjamu tamu tidak ada,” terangnya.

Bukan hanya pemerintah Vatikan, warga negara Indonesia (WNI) yang berada di bawah naungan KBRI Vatikan juga punya toleransi tinggi. Untuk diketahui, KBRI Vatikan saat ini menaungi 1.530 WNI. Jumlah itu hampir sama dengan WNI yang dinaungi KBRI Roma. Yang berbeda, semua WNI yang dinaungi KBRI Vatikan adalah pastor dan suster yang bertugas di gereja-geraja Katolik sekitar Roma dan di dalam Kota Vatikan.

Duta Besar RI untuk Takhta Suci Vatikan Budiarman Bahar menceritakan suka duka selama bertugas di sana. Seperti halnya di tanah air, di Vatikan juga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News