Rumini dan Siskaee

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Rumini dan Siskaee
Siskaeee atau FCN menjalani pemeriksaan psikologi di Polda DIY, Senin (6/12). Foto: Humas Polda DIY

jpnn.com - ‘’Nduk, anakku Rumini, mlayu o nduk, ibu wes 70 tahun wes ra mampu mlayu…wedus gembel Semeru bakal ngubur deso iki lan makhluk penghunine…Wes nduk ndang mlayu o…iklasno ibu istirahat panjang neng kene…’’

(‘’Nduk, anakku Rumini, larilah anakku, ibu sudah 70 tahun sudah tidak mampu lari, wedus gembel Semeru bakal mengubur desa ini dan makhluk penghuninya…Sudahlah nduk, segeralah lari, ikhlaskan ibu istirahat panjang di sini…’’)

’Mboten, buk, rogo iso mlayu…Tapi ati iki ora iso…Ra sanggup tego niggalne ibu dewean…’’

(Tidak, bu, raga ini bisa lari…Tapi hatiku tidak bisa…Tidak sanggup tega meninggalkan ibu sendirian….’’)

Dialog Nenek Salamah (70 tahun) dan putrinya Rumini (28 tahun) itu viral di media sosial. Bersama dialog itu ada ilustrasi kartun yang menggambarkan Rumini memeluk ibunya yang tergeletak tidak berdaya. Di latar belakang tampak debu tebal ‘’wedus gembel’’ dari awan panas Gunung Semeru bergulung-gulung melindas apa saja.

Dialog itu adalah pembicaraan terakhir Salamah dan Rumini. Keduanya kemudian ditemukan tewas dalam kondisi berpelukan di dapur rumah (5/12). Jenazah ibu beranak itu terbenam di kedalaman debu yang mengeras ketika ditemukan oleh kerabatnya.

Dari 34 korban meninggal yang sudah ditemukan akibat erupsi Gunung Semeru, kisah Rumini dan ibunya menjadi yang paling mengharu biru. Desa Kobokan, Candipuro menjadi salah satu desa yang lenyap ditelan debu dengan jumlah korban paling banyak. Rumini dan Bu Salamah termasuk di dalamnya.

Rumini bisa saja melarikan diri ketika mendengar suara gelegar muntahan lahar panas dari puncak gunung. Ia punya waktu dan kekuatan untuk lari. Namun, Rumini tidak tega membiarkan ibunya yang hampir lumpuh sendirian di rumah.

Naluri primitif Siskaee dipamerkan secara luas, ditonton ratusan ribu orang yang menderita kelainan jiwa.