JPNN.com

Rupiah Lampaui Level Psikologis, Bye Bye Dolar AS

Jumat, 05 Juni 2020 – 19:03 WIB
Rupiah Lampaui Level Psikologis, Bye Bye Dolar AS - JPNN.com
Mata uang rupiah. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Harapan akan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) mencapai level psikologis akhirnya terwujud. Nilai tukar rupiah pada penutupan transaksi Jumat (5/6) sore, bahkan di bawah angka Rp 14.000 per USD.

Rupiah menguat 217 poin atau 1,54 persen sehingga USD menjadi Rp 13.878. Sehari sebelumnya USD masih di level Rp 14.095.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta mengatakan, strategi bauran ekonomi yang sudah diterapkan pemerintah dan Bank Indonesia saat ini menambah daya gedor tersendiri bagi terlaksananya roda perekonomian. Menurut keyakinannya, jalan menuju stabilitas sudah di depan mata.

Apalagi, pemerintah sudah memberlakukan tatanan normal baru (new normal) pada Juni ini, meski Pemprov DKI memutuskan melanjutkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dengan pelonggaran atau yang disebut masa transisi.

"Keputusan ini akan menggeliatkan roda perekonomian di DKI Jakarta yang merupakan barometer ekonomi Indonesia dan ini akan menambah optimisme pelaku pasar terhadap pasar dalam negeri," ujar Ibrahim.

Di samping itu, lanjutnya, suku bunga obligasi yang tinggi akan menjadi magnet tersendiri bagi pelaku pasar. Oleh karena itu wajar ketika normal baru diberlakukan, arus modal asing masuk ke pasar dalam negeri begitu deras dan lagi-lagi yang diuntungkan adalah mata uang Garuda yang makin perkasa di minggu ini.

Dari eksternal, Bank Sentral Eropa (ECB) kembali menggelontorkan stimulus. ECB dalam pengumuman kebijakan moneter kemarin (Kamis) malam, memutuskan menambah nilai Pandemic Emergency Purchase Programme (PEPP), yakni program pembelian aset (obligasi pemerintah) sebesar Euro 600 miliar.

Selain itu, sentimen positif lainnya yaitu roda bisnis di berbagai belahan dunia yang sudah kembali berputar meski secara perlahan. "Hal ini tentunya membuat perekonomian bisa bangkit dari kemerosotan sehingga akan terhindar dari resesi panjang, bahkan kemungkinan depresi yang ditakutkan pelaku pasar," ujar Ibrahim.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...
ridha