Sampah Makanan Indonesia Senilai Rp 330 Triliun per Tahun, Diolah Jadi Energi?

Sampah Makanan Indonesia Senilai Rp 330 Triliun per Tahun, Diolah Jadi Energi?
Ki-Ka: Hanan Attaki, Rene Suhardono, dan Dimar  Zuliaskimsah. Foto Mesya/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Indonesia tercatat sebagai kontributor sampah laut kedua terbesar di dunia. Ironisnya, sekitar 70% dari bobot sampah yang dihasilkan tersebut merupakan sampah makanan yang bernilai tidak kurang dari Rp 330 triliun setahun.

"Kondisi inilah yang mendorong kami mengetengahkan tiga isu utama, yakni food, waste dan energy agar muncul solusi permasalah sosial termasuk soal sampah," kata Hanan Attaki, Founder KITA, dalam konferensi pers di Stuja Coffee Cipete, Jakarta, Jumat (23/9). 

Dia menjelaskan pemilihan tiga topik utama, yaitu energi, pangan dan sampah didasarkan pada tingkat kepentingan serta prioritasnya yang makin mendesak.

Misalnya, terkait energi di mana posisi Indonesia telah bergeser dari negara pengekspor jadi negara pengimpor minyak

Begitu juga pada masalah pangan dan sampah yang menjadi tantangan bukan hanya Indonesia, tetapi seluruh dunia. 

Makin menipisnya energi berbasis fosil, mendorong banyak negara untuk mencari energi terbarukan, termasuk Indonesia.

Saat ini, permintaan energi global telah meningkat tiga kali lipat dari tahun 1950.

"Ironis kan, karena di sini menyimpan begitu banyak sumber energi terbarukan. Mulai dari air, angin, geothermal, surya, hingga biomassa," katanya. 

KITA mengungkapkan sampah makanan Indonesia senilai Rp 330 triliun per tahun, Bisakah diolah jadi energi?

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News