SBY: Saya Pernah Dalam Situasi yang Sama

SBY: Saya Pernah Dalam Situasi yang Sama
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Foto dok JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendoakan Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson yang tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit di Londok, lantaran positif terinfeksi virus corona (Covid-19).

Topik mengenai Boris Johnson menjadi pembuka tulisan SBY berjudul "Indonesia Harus Bersatu, dan Fokus pada Penghentian Penyebaran Virus Corona" yang diunggah di akun facebooknya, Rabu (8/4).

Dalam tulisannya tersebut, pemimpin Indonesia dua periode ini mengetahui kondisi PM Inggris tersebut dari berita di TV.

"Sungguhpun saya tidak mengenal Boris Johnson secara pribadi, sebagai mantan Presiden Indonesia dan sebagai warga dunia (world citizen) saya mendoakan secara tulus agar Johnson diberikan kesembuhan. Semoga beliau diselamatkan dari serangan virus korona yang ganas itu, dan bisa kembali memimpin Inggris dalam masa krisis sekarang ini, untuk keselamatan warga negaranya," tulis SBY.

Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu mengaku tidak mengenal Boris Johnson secara pribadi. Sebab, ketika memimpin Indonesia dulu, dirinya mengenal dan bekerja sama dengan 3 perdana menteri Inggris, yaitu Tony Blair, Gordon Brown dan David Cameron. Dalam tulisannya itu, dia pun mengulas secara siingkat kemitraannya dengan ketiga mantan PM Inggris tersebut.

"Mengapa saya menyampaikan doa tulus untuk kesembuhan pemimpin Inggris itu? Mengapa saya memiliki empati kepada seorang pemimpin yang jatuh sakit ketika sedang bekerja keras untuk menyelamatkan bangsa dan negaranya dari sebuah krisis? Semuanya bertolak dan berkaca dari pengalaman pribadi saya sendiri. Pengalaman pribadi seseorang, yang pernah berada dalam situasi yang sama," sambung tokoh 70 tahun tersebut.

Pemimpin yang lahir di Pacitan, Jawa Timur pada 9 September 1949 itu pu  menceritakan bagaimana dirinya pernah dihadapkan pada sejumlah krisis ketika sepuluh tahun menjadi presiden. Sebagai contoh, sewaktu bersama Wapres Jusuf Kalla mengatasi bencana alam terbesar awal abad 21, yaitu tsunami Aceh dan Nias.

Kemudian, ketika mengatasi krisis meroketnya harga minyak dunia di tahun 2005, 2008 dan 2013; dan sewaktu mengatasi krisis ekonomi global tahun 2008-2009 bersama Jusuf Kalla, Boediono, Sri Mulyani dan para pejabat negara baik pusat maupun daerah yang lain masa itu.

"Dalam masa krisis dan “darurat” tersebut, saya harus memimpin secara langsung. Bertanggung jawab secara penuh. I must be at the driving seat. Ibarat sedang menjalankan kendaraan, saya sendiri yang harus mengemudikannya, sementara rakyat Indonesia sebagai penumpangnya," demikian SBY menerangkan.

Nah, dalam suasana krisis tersebut, lanjutnya, seorang pemimpin sering lupa atas keamanan dan keselamatan dirinya. Bisa lupa makan dan minum, kurang tidur dan bahkan tidak mengenal waktu untuk beristirahat. Itu karena, dalam hati dan pikirannya, tugaslah yang harus diutamakan.

"Mission must be well accomplished.  Krisis harus bisa diatasi. Negaranya harus selamat. Rakyat harus dilindungi. Semuanya dipandang sebagai tugas dan kewajiban moral seorang pemimpin," ungkap mantan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan era Presiden Megawati Soekarnputri itu.

Sedikit sentimentil, dalam ulasan berikutnya, SBY menyampaikan bahwa dalam keadaan seperti itu, pemimpin di samping mengalami tekanan psikologis sangat mungkin justru jatuh sakit.

"Saya jadi ingat mendiang isteri tercinta. Setiap berada dalam situasi seperti itu, Ani tak pernah lupa mengingatkan untuk tetap menjaga kesehatan saya. Sambil terus mendampingi dan memberi semangat kepada saya, Ani juga memperhatikan makanan dan vitamin yang saya perlukan. Juga menemani saya ketika menjalankan salat, karena setelah semua diikhtiarkan melalui kerja keras, pertolongan Allah-lah yang kita mohonkan," jelasnya.

Dalam situasi pandemi Covid-19 sekarang, SBY meyakini para pemimpin di seluruh dunia juga berada dalam situasi yang dia gambarkan, Termasuk pemimpin Inggris, dan tentunya pemimpin Indonesia, Presiden Jokowi. Oleh karena itu, doa tulusnya itu, doa keselamatan dan kesehatan yang dia panjatkan juga berlaku bagi para pemimpin yang lain.

"Termasuk semua pihak yang tengah berada di garis depan dalam mengatasi serangan virus korona ini. Secara khusus, doa tulus dan terima kasih juga saya tujukan kepada para dokter dan perawat, yang tugasnya memiliki risiko yang paling tinggi, karena sehari-hari mesti bersinggungan dengan para pasien Covid-19," ucap SBY.(fat/jpnn)

Topik mengenai Boris Johnson menjadi pembuka tulisan SBY berjudul "Indonesia Harus Bersatu, dan Fokus pada Penghentian Penyebaran Virus Corona" yang diunggah di akun facebooknya, Rabu (8/4).


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News