Sejak Januari Hingga Rabu Pagi, 37 Warga NTT Meninggal akibat DBD

Sejak Januari Hingga Rabu Pagi, 37 Warga NTT Meninggal akibat DBD
Pasien DBD dirawat di salah satu ruangan di RSUD TC Hillers, Rabu (11/3). Foto: ANTARA/Kornelis Kaha

jpnn.com, KUPANG - Data Dinas Kesehatan Pemprov Nusa Tenggara Timur, hingga Rabu (11/3) pagi, jumlah korban meninggal dunia akibat DBD (demam berdarah dengue) di provinsi itu mencapai 37 orang.

"Sampai dengan pagi ini, dari seluruh data yang kami kumpulkan di 22 kabupaten/kota terkait DBD sudah ada 37 orang yang meninggal dengan jumlah kasus DBD sejak Januari hingga awal Maret 2020 mencapai 3.109 kasus, " kata Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi NTT David Mandala kepada ANTARA saat dihubungi dari Maumere, Kabupaten Sikka, Rabu (11/3) pagi.

David mengatakan bahwa terjadi penambahan korban meninggal akibat DBD jika dibandingkan dengan satu hari sebelumnya.

Artinya, dalam sehari telah terjadi empat kasus kematian di beberapa kabupaten di provinsi berbasis kepulauan itu. Salah satunya adalah di kabupaten Sikka yang kini menyumbang angka tertinggi untuk kematian.

"Kabupaten penyumbang kasus DBD tertinggi adalah kabupaten Sikka dengan angka kematian mencapai 14 orang, dan terdapat 1.216 kasus, " tambah dia.

Urutan kedua ditempati oleh Kota Kupang dengan jumlah kasus 462 kasus dengan angka kematian mencapai 5 orang.

Posisi ketiga ditempati oleh kabupaten Alor, dengan jumlah kasus mencapai 308 kasus dengan jumlah kasus mencapai tiga orang.

Ia mengatakan semakin meningkatnya jumlah pasien DBD yang meninggal di provinsi itu diakibatkan karena keterlambatan untuk membawa korban ke puskesmas atau RS agar bisa diperiksa.

Jumlah warga NTT yang meninggal akibat serangan DBD, sudah bertambah menjadi 37 orang, sejak Januari hingg Rabu pagi ini.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News