Semangat Martha Christina Tiahahu dan Kolonialisme Modern

Oleh: Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina, Direktur Archipelago Solidarity Foundation

Semangat Martha Christina Tiahahu dan Kolonialisme Modern
Direktur Archipelago Solidarity Foundation Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina. Foto: dok.pribadi for JPNN.com

jpnn.com - SERANGAN rakyat Kepulauan Lease terhadap Benteng Duurstede di Pulau Saparua pada tahun 1817 yang dipimpin Kapitan Thomas Matullessy menyebabkan Belanda mengirimkan pasukan untuk meredam perlawanan Thomas Matulessy.

Serangan pertama Belanda berada di bawah Komando Mayor Beetjes. Namun, serangan pertama ini menyebabkan kekalahan pasukan Mayor Beetjes.

Ekspedisi kedua pasukan Belanda ke Saparua dipimpin Mayor Meijer pada September 1817 yang melibatkan pasukan besar dan senjata lengkap.

Ekspedisi ini menyebabkan satu per satu negeri di Kepualauan Lease berada di bawah kendali pasukan Belanda. Tapi, ketika hendak menaklukkan perlawanan di Negeri Ullath dan Negeri Ouw pada November 1817, Pasukan Mayor Meijer mendapat perlawanan dari pasukan Martha Christina Tiahahu yang saat itu berusia 17 tahun.

Martha Christina lahir pada 4 Januari 1800. Martha sangat dekat dengan ayahnya, Kapitan Paulus, karena ibunya telah meninggal ketika Martha Christina masih berusia kanak-kanak.

Kapitan Paulus Tiahahu merupakan Raja Negeri Abubu di Nusa Laut dan juga rekan seperjuangan Kapitan Thomas Matulessy.

Pertempuran Ullath-Ouw ini menyebabkan Mayor Meijer menderita luka parah, sehingga komando pasukan Belanda beralih ke tangan Kapten Vermeulen Krieger yang juga menderita luka meski tidak separah Mayor Meijer. Sedangkan, kolega mereka Letnan Richemont tewas dalam pertempuran.

Perwira Krieger yang dihadapi Martha Christina ini bukan tentara sembarangan, karena pernah terlibat dalam pertempuran Waterloo. Di kemudian hari dikirim ke beberapa daerah termasuk ke Jawa untuk menghadapi perlawanan.

Engelina Pattiasina, Direktur Archipelago Solidarity Foundation, mengulas perjuangan Martha Christina Tiahahu dan kaitannya dengan Blok Masela.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News