Kamis, 20 September 2018 – 20:33 WIB

Separuh Lebih Orang Yang Ditembak Mati Polisi NSW Alami Gangguan Jiwa

Senin, 05 Maret 2018 – 22:00 WIB
Separuh Lebih Orang Yang Ditembak Mati Polisi NSW Alami Gangguan Jiwa - JPNN.COM

Ian Fackender telah berjuang dengan skizofrenia selama hampir 15 tahun saat ia ditembak oleh polisi setelah terjadi pertengkaran pada tahun 2017.

Poin utama:

• Sebanyak 35 orang ditembak oleh polisi New South Wales dalam 20 tahun terakhir

• Sebanyak 19 dari mereka memiliki penyakit jiwa

• Semua polisi telah menerima pelatihan sehari untuk menangani orang-orang dengan gangguan jiwa dalam sebuah krisis

• Anggota Parlemen David Shoebridge mengatakan bahwa pelatihan itu menggelikan

Ia hanyalah satu dari 35 orang yang ditembak mati oleh Kepolisian Negara Bagian New South Wales (NSW), Australia, dalam 20 tahun terakhir dan, menurut data polisi yang baru dirilis, lebih dari setengahnya memiliki penyakit jiwa.

"Sekarang setelah kami mendapatkan datanya, tampaknya ... orang-orang dengan penyakit jiwa, seringkali, adalah orang-orang yang ditembak dan dibunuh oleh polisi," kata anggota Parlemen NSW dari Partai Hijau, David Shoebridge, yang memperoleh data melalui Undang-Undang Akses Informasi Publik Pemerintah (GIPAA).

Ia percaya fasilitas kesehatan mental yang kekurangan sumber daya dan kurangnya pelatihan polisi untuk kesehatan mental adalah faktor kunci.

Malam penyerangan

Fackender adalah ayah dari enam orang.

"Ia cukup senang berada di sekitar keluarganya. Ia merencanakan perjalanan untuk menemui anak perempuan termudanya di Queensland," kata sang ibu, Sue.

"Ia mencintai cucu-cucunya."

Tapi kesehatan mentalnya mengalami pukulan berat 15 tahun yang lalu, saat istrinya kehilangan bayinya pada usia 36 minggu.

"Sepertinya ia tak beres, hanya mengatakan beberapa hal yang tidak masuk akal,” ujar Sue

"Pertama kali ia mendapat pertolongan adalah saat ia benar-benar menjadi gila dan menjalani pengobatan."

Fackender didiagnosa menderita skizofrenia namun ia berjuang dengan efek samping obatnya dan terkadang memilih untuk tidak meminumnya.

Pada hari ia ditembak, Fackender terlambat lima hari untuk menjalani pengobatan injeksi bulanan.

Danukul Mokmool (kiri), dengan saudara laki-laki dan ibunya, ditembak mati oleh polisi di luar Stasiun Sentral Sydney.
Danukul Mokmool (kiri), dengan saudara laki-laki dan ibunya, ditembak mati oleh polisi di luar Stasiun Sentral Sydney.

Supplied: Charlie Huynh

Ia tidak menanggapi telepon dari keluarganya dan petugas kesehatan mental, jadi tim medis tersebut meminta bantuan polisi.

Ketika Fackender menolak untuk menjawab ketukan pintu, polisi mendobrak masuk dengan kunci yang diberikan oleh sang ibu kepada mereka.

"Ian sedang tidur, atau mendengarkan musik, headphonenya terpasang, dan mereka mendekat lalu mengangkat selimutnya dan mereka melihat bahwa ia memegang pedang Star of David-nya, yang ketika ia sedang tidak sehat, itu adalah perlindungannya terhadap semua hal,” tutur Sue.

"Ketika ia melihat mereka, ia mencengkeram benda itu, saya tidak tahu apakah ia menggerakkannya atau apa yang terjadi.”

"Petugas polisi kemudian mencoba melawannya, ia diserang dua kali dan tidak berhasil .. Dan mereka mulai mundur.”

Apa yang berubah?

Kematian Danukul Mokmool di Stasiun Sentral-lah yang mendorong Shoebridge, untuk melihat lebih dekat jumlah orang sakit mental yang ditembak oleh polisi.

"Ketika saya melihat tembakan fatal di Stasiun Sentral yang tampak seperti orang sakit jiwa dikelilingi polisi, memegang gunting, itu segera mengingatkan kematian Roni Levi di Pantai Bondi," katanya.

"Sementara jarak 20 tahun memisahkan mereka, sepertinya tidak banyak yang berubah dalam hal reaksi polisi.”

Jadi ia meminta data dari Polisi NSW.

"Saya hanya meminta nama dan jumlah orang yang telah terbunuh melalui penggunaan senjata api polisi," kata Shoebridge.

Dari 35 nama yang tersedia, setidaknya 19 orang (54 persen) memiliki penyakit jiwa.

Shoebridge percaya bahwa proporsi orang-orang sakit mental dalam daftar itu didorong oleh dua faktor.

"Kami memiliki sumber fasilitas kesehatan mental yang kurang dan bukan hanya di NSW saja, ini masalah nasional," katanya.

"Itu berarti bahwa polisi garis depan adalah perespon garis depan dan polisi yang pada awalnya relatif junior pergi ke sana, berurusan dengan orang-orang sakit jiwa dan, jujur saja, mereka tidak mendapat pelatihan dan mereka tidak mendapat dukungan.”

"Anda mengumpulkan kedua hal itu bersama-sama, Anda memiliki campuran yang sangat ampuh, tragis, dan seringkali-fatal."

Komisioner Polisi NSW, Mick Fuller, ingin membasmi penembakan.
Komisioner Polisi NSW, Mick Fuller, ingin membasmi penembakan.

AAP: Dan Himbrechts

Ruang yang kompleks

Komisaris Polisi NSW Michael Fuller mengatakan bahwa jumlah orang-orang dengan penyakit jiwa akibat kematian polisi tidak mengejutkannya.

"Uji kesuksesan kami, sayangnya, tidak bisa berada di sekitar tren naik atau turun," katanya.

"Jelas saya ingin trennya menjadi nol.”

"Tapi bagi saya, ini tentang analisis akar penyebab - apakah ada hal lain yang bisa kami lakukan? Jika ada maka kami akan melakukannya."

Ia telah menjanjikan transparansi penuh tentang penggunaan unit fatal polisi dalam penembakan baru-baru ini.

"Saya hanya ingin memberi masyarakat NSW sebuah jaminan bahwa kami tidak bersembunyi dari pengawasan sehubungan dengan cara kami menggunakan kekerasan," kata Komisaris Fuller.

"Tapi dalam banyak kasus, sementara kami akan mendapat rekomendasi dari petugas pemeriksa mayat dan hal-hal yang bisa kami perbaiki, jarang ditemukan temuan oleh petugas pemeriksa mayat atau sebaliknya bahwa ini adalah penembakan yang tidak sah - sama tragisnya dengan kasus tersebut."

Sejak tahun 2014, semua polisi di NSW telah menerima satu pelatihan sehari penuh, melalui Tim Intervensi Kesehatan Mental di organisasi tersebut, tentang bagaimana mendekati orang-orang yang sakit mental dalam krisis.

Polisi mengatakan bahwa pelatihan tersebut berfokus pada situasi yang semakin meningkat sebelum mencapai titik kritis.

Sekitar 300 petugas setahun ambil bagian dalam kursus lebih lanjut selama empat hari.

Komisioner Mick Fuller mengatakan sementara kesehatan mental harus selalu menjadi bagian dari petugas pemeriksa saat menghadapi situasi, ada faktor lain.

"Jika seseorang berada dalam ancaman langsung terbunuh oleh orang tersebut, maka apakah itu gangguan kesehatan mental atau penyalahgunaan zat, seringkali polisi harus mengambil keputusan sepersekian detik untuk mengambil nyawa demi menyelamatkan nyawa."

* ABC menghapus 3 insiden dari data tersebut - dua petugas polisi secara tidak sengaja menembak selama operasi dan orang yang bukan sasaran namun terkena pecahan peluru dari senjata api polisi.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

 
SHARES
Komentar