Sumbar harus Tetap Menyiapkan Kawasan Mandeh dan Mentawai

Sumbar harus Tetap Menyiapkan Kawasan Mandeh dan Mentawai
Kawasan Wisata Mandeh. Foto: posmetropadang

Hebatnya lagi, sambung Bambang, wisatawan tetap mau datang dengan peralatan transportasi seadanya pada waktu itu, yakni hanya naik kapal. Mereka tinggal di Mentawai tak hanya satu atau dua hari, namun bisa lebih dari seminggu.

“Kalau untuk surfing, pasti waktunya lebih panjang. Artinya, di Mentawai ada potensi,” tukasnya.

Penyebab Bali begitu populer wisatanya, menurut Bambang karena tak hanya menjual satu destinasi wisata saja tapi kawasan. Jika Bali mempromosikan “Ayo Surfing ke Bali”, belum tentu akan banyak yang berkunjung. Namun karena ada penawaran lain, maka wisatawan menjatuhkan pilihannya ke daerah itu. Di tambah lagi, sarana dan prasarana sudah memadai.

“Mungkin tetap ada wisatawan yang mau menginap di mana saja di Mentawai demi bisa berselancar. Namun, itu terbatas. Padahal, bisa juga wisatawan yang tidak suka berselancar ingin menikmati alam dan culture-nya. Akan tetapi, karena belum ada fasilitas memadai, maka mereka urung ke sana,” ucapnya.

Oleh karena itu, konsep kawasan dan spasial menjadi penting. Kalau Mentawai dikembangkan dalam kawasan yang terintegrasi seperti di pinggir Danau Toba, maka bisa menarik wisatawan dalam jumlah besar. “Bisa saja, nanti ada kemudahan akses ke Mentawai. Misalnya, untuk ke Mentawai bisa dengan penerbangan dari BIM ke Mentawai atau dari Pekanbaru dan Medang langsung ke Mentawai,” ucapnya.

Wacana tersebut sebelumnya, pernah disampaikan Menteri Pariwisata Arief Yahya agar memperluas bandara Rokot di Mentawai sehingga orang bisa akses langsung ke daerahj kepulauan itu tanpa harus transit ke BIM. Namun, hingga kini belum terealisasi.

Dengan adanya akses yang lebih mudah, makanan yang layak dan sehat serta didukung wisata alam dan cultrure masyarakat Mentawai dalam satu kesatuan promosi wisata, maka itu bisa mendongkrak tingkat wisatawan. “Itulah pentingnya kawasan terintegrasi tadi,” imbuhnya.

Jika daerah tak punya potensi pariwisata, dia mengingatkan agar tidak memaksakan harus ada. “Fungsi ekonomi suatu daerah tak hanya pariwisata. Tapi, ada juga pelabuhan dan kawasan industri,” tukasnya.

Pengembangan pariwisata Indonesia harus berbasis kawasan dan tidak boleh sepotong-sepotong atau parsial.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News