Minggu, 18 November 2018 – 00:10 WIB

Sumur Minyak di Riau Tinggal Sejarah

Kamis, 19 Mei 2011 – 16:10 WIB
Sumur Minyak di Riau Tinggal Sejarah - JPNN.COM

JAKARTA- Provinsi Riau sempat diandalkan sebagai penyumbang 70 persen produksi minyak nasional. Mayoritas sumur dan kilang minyak nasional berada di provinsi ini hingga menjadikannya sebagai daerah yang kaya raya. Sayangnya, semua itu disebut hanya menjadi sejarah manis masa lalu karena dalam beberapa tahun terakhir, lifting minyak dari perut bumi Riau terus menurun.
 
"Tidak ada sumur terbarukan lagi, seperti yang sebesar Cepu. Bahkan sumur minyak di Riau yang dulu juga terbesar, sekarang hanya tinggal masa lalu," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Bambang Brodjonegoro di Jakarta, Kamis (19/5).

Sejarah pernah mencatat, produksi minyak Indonesia pernah mencapai 1,3 juta barel per hari (bph). Karenanya Indonesia masuk menjadi anggota OPEC, sebagai negara penghasil minyak terbesar. "Tapi itu dulu, sekarang jangankan 1 juta. Target 970 bph bahkan 900 bph saja kita sudah sangat kesulitan. Termasuk yang di Riau, nyaris di semua sumur dan kilangnya mengalami penurunan produksi sangat signifikan," kata Bambang.

Penyebab turunnya produksi ini kata Bambang, karena eksploirasi minyak termasuk kegiatan yang renewable energy atau energi yang tidak terbaharukan. Sehingga faktor usia sumur, turut mempengaruhi. Selain itu karena faktor tekhnologi yang membutuhkan investasi tingkat tinggi.

"Bukannya kita tidak memperhatikan masalah ini, masalahnya tidak semua investor berani menanamkan investasi mereka di bidang energi. Karena investasi kilang tidak menjanjikan bagi investor," kata Bambang.

Wakil Menteri Keuangan, Any Ratnawati mengatakan, sebenarnya pemerintah khususnya Kementrian Keuangan juga sangat memperhatikan masalah ini. Beberapa investasi bidang energy, juga sudah diberikan insentif pajak dan perizinan dari pemerintah.

"Namun kita banyak persoalan untuk persoalan sumur ini. Karena eksploirasi fosil ini suatu hari pasti akan habis dan tidak akan cukup. Maka harus kita siapkan dari sekarang, apa yang menjadi penggantinya," kata Any.

Direktur PT Bumi Siak Pusako (BSP) yang saat ini sedang mengelola CPP Blok, Jumadi Jusuf kepada JPNN memang mengakui terjadi penurunan lifting di sekitar 500 sumur CPP Blok di Kabupaten Siak, Riau.

Namun penurunan ini katanya, hampir merata terjadi di seluruh sumur eksploirasi minyak di Indonesia. Bahkan CPP Blok justru lebih baik, penurunannya produksi masih dibawah penurunan produksi nasional.

"Rata-rata nasional turun produksi 16 persen, sedangkan CPP Blok 8 persen. Artinya sumur-sumur kita produksinya masih cukup bagus. Yang diperlukan itu sebenarnya hanya tekhnologi saja. Kalau tekhnologinya ada, produksi bisa kita tingkatkan maksimal," kata Jusmadi.

CPP Blok yang dikelola PT BSP, tahun 2002 pernah mencapai produksi emas 39.000 Bph. Saat ini rata-rata produksi turun menjadi sekitar 17.000 Bph. Sedangkan perbandingan dengan PT CPI, tahun 2002 dari produksi 600.000 Bph, turun saat ini menjadi sekitar 400.000 Bph.

"Jika lihat dari penurunan di periode yang hampir sama, antara CPP Blok dengan PT CPI nyaris sama. Kita masih sangat optimis mampu mengelola sumur-sumur ini. Setiap tahun kita bisa membuka sekitar 10 sumur. Hanya tinggal tekhnologi saja," kata Jusmadi.(afz/jpnn)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar