Sustainable Energy Solusi untuk Permasalahan Minyak Goreng

Oleh: Febri wahyuni Sabran, Jubir Muda DPP PAN

Sustainable Energy Solusi untuk Permasalahan Minyak Goreng
Jubir Muda DPP PAN Febri Wahyuni Sabran. Foto: Dokumentasi pribadi

jpnn.com - “Harga sawit hancur kak,” ucap Fahmi, seorang petani sawit dari Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat kepada saya melalui pesan Direct Messagge Instagram.

Keluhan jatuhnya harga tandan buah segar (TBS) sawit dirasakan oleh petani-petani sawit di Sumatra.

Saat ini harga TBS jatuh ambruk di angka 200-300 rupiah per kilogram (Kg).

Untuk menemukan keseimbangan pengendalian harga minyak goreng maka harga TBS seharusnya menyentuh harga di atas Rp 2.500 per kilogram dengan estimasi harga minyak goreng di pasar Rp 14.000/liter. Dengan demikian jeritan para petani bisa redam dan bernapas lega.

Pengendalian hulu dan hilir distribusi minyak goreng seharusnya juga menyentuh para petani-petani sawit di Pulau Sumatra sebagai lahan perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia dengan luas 7.944.520 hektare (BPS 2019).

Teriakan aspirasi tersebut patut didengar dengan bijaksana. Jeritan bukan hanya terdengar dari dapur ibu Darmiah karena harga minyak goreng yang mahal tetapi juga dari para petani sawit yang tercekik.

Mengendalikan distribusi minyak goreng dari hulu-hilir tentu semata-mata tidak dapat dilakukan dalam waktu semalam. Menteri Perdaganggan perlu waktu dalam memahami permasalahan minyak goreng dari hulu hingga hilir secara komprehensif.

Kita perlu mengapresiasi Mendag yang turun langsung ke pasar untuk bertemu langsung dengan para pedagang dan pemasok minyak goreng.

Ekonomi sirkular memberikan solusi untuk meningkatkan daya beli pada rumah tangga & UKM terhadap minyak goreng sehingga tercipta rantai pasok berkelanjutan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News