JPNN.com

Tempat Cuci Tangan dari Limbah Kaleng Jadi Bisnis yang Tetap Eksis saat Pandemi

Selasa, 23 Februari 2021 – 10:07 WIB
Tempat Cuci Tangan dari Limbah Kaleng Jadi Bisnis yang Tetap Eksis saat Pandemi - JPNN.com
Kerajinan tong limbah cat asal Desa Gagaksipat, yang dibuat tempat cuci tangan dengan lukisan yang indah di masa pandemi tetap eksis produksi, di Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali. Foto: Antara

jpnn.com, BOYOLALI - Seorang pelaku usaha kerajinan limbah kaleng di Desa Gagaksipat, Ngemplak, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, Siti Restami, mampu bertahan dan tetap eksis selama pandemi Covid-19.

Perempuan berusia 36 tahun itu mengandalkan kreativitas dan inovasi dan mampu mendapatkan omzet kurang lebih Rp6 juta per bulan.

Siti Restamsi yang memiliki keahlian melukis, membuat kaleng limbah bisa menjadi barang yang bernilai jual seperti celengan, kaleng makanan, dan cendera mata lainnya.

"Kami tetap produksi dari bahan baku limbah kaleng, tetapi kami juga membuat kerajinan ember tempat cuci tangan dari limbah tong cat yang sedang banyak dicari konsumen pada masa pandemi," kata Siti, di Boyoyali, Selasa (23/2).

Dia mengaku usaha bersama yang diberi nama "Sasa Istina Kelang" itu, mulai kebanjiran pesanan. Permintaan rata-rata mencapai 50 tong limbah cat ukuran 25 liter per bulan.

"Kami dengan dibantu dua tenaga kerja kemampuan produksi rata-rata hanya sekitar 50 buah per bulan. Permintaan sangat banyak jadi kami hingga harus menolak kadang," katanya.

Selain itu, dia juga membuat kerajinan kursi dan meja dari tong bekas cat. Harga kursi dari limbah tong cat hanya dijual Rp150 ribu per buah, dan meja juga dijual Rp150 ribu per bulan.

Permintaan tong tempat cuci tangan produksinya, kata dia, dari berbagai daerah, antara lain Boyolali, Kota Solo, Karanganyar, Sukoharjo, dan Semarang, Sedangkan, kerajinan kursi dan meja kursi kebanyakan luar kota, misalnya, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), dan Bandung.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...