Tenaga Kesehatan di Indonesia Berjuang Antara Selamatkan Pasien dan Keluarga Sendiri

Tenaga Kesehatan di Indonesia Berjuang Antara Selamatkan Pasien dan Keluarga Sendiri
Tes usap (swab test) COVID-19 dengan cara tes anal dilakukan terhadap warga yang menjalani karantina di China. (AP: Mark Schiefelbein)

Sudah tiga bulan dokter muda Nadhira Anindita Ralena dikarantina di salah satu tower di kawasan Wisma Atlet Kemayoran Jakarta.

Dr Dita mengatakan sehari-hari ia bisa merawat sekitar 150 pasien yang dirawat di rumah sakit darurat di wisma tersebut.

"Sebelum tahun baru, Tower 6 dan 7 Wisma Atlet menampung sekiranya 1.000-an pasien. Lepas tahun baru, 2.500 pasien hampir terlampaui," kata dr Dita.

"Peningkatan penumpukan pasien COVID itu nyata sekali di rumah sakit dan itu membuat tenaga kesehatan kelelahan."

"Sejawat saya mulai kelelahan, bahkan ada yang jatuh sakit. Jumlah pasien terus meningkat dengan jumlah tenaga kesehatan yang malah berkurang. Kami benar-benar jungkir balik dua minggu ini." katanya lagi.

Tenaga Kesehatan di Indonesia Berjuang Antara Selamatkan Pasien dan Keluarga Sendiri Photo: Dr Nadhira Anindita Ralena menjalani karantina di Rumah Sakit Darurat COVID Wisma Atlet Kemayoran selama tiga bulan di tengah pekerjaannya di sana. (Koleksi pribadi)

 

Dr Dita, yang menamatkan sarjana kedokterannya dari University of Melbourne mengimbau agar masyarakat Indonesia menanggapi COVID-19 dengan serius.

"Di rumah sakit, dampak COVID itu tidak ke pasien saja, tapi juga orang-orang yang bekerja untuk pasiennya," kata Dita kepada ABC Indonesia.

Sudah tiga bulan dokter muda Nadhira Anindita Ralena dikarantina di salah satu tower di kawasan Wisma Atlet Kemayoran Jakarta

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News