Ternyata ini Penyebab Anak Indonesia Kurang Minat Membaca

Ternyata ini Penyebab Anak Indonesia Kurang Minat Membaca
Kepala Perpusnas RI Syarif Bando (kiri) dalam talk show membahas tentang literasi. Foto Humas Perpusnas RI

jpnn.com, JAKARTA - Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando mengatakan budaya membaca di Indonesia mulai meningkat. Ini bisa dilihat dari keberadaan Perahu Pustaka, Kuda Pustaka, Becak Pustaka, Angkot Pustaka, Mobil Pustaka, dan fasilitas bacaan lainnya yang disambut antusias warga.

"Indonesia hanya kekurangan bahan bacaan, bukan malas membaca," kata Syarif dalam talk show pada Selasa (20/4).

Dia membeberkan, penduduk Indonesia berdasarkan data BPS kurang lebih 270 juta jiwa. Sementara jumlah bahan bacaan yang Perpusnas data di semua jenis perpustakaan umum (bukan di sekolah, perguruan tinggi, atau di rumah) adalah 22 juta.

Artinya, rasio buku dengan total penduduk belum mencapai  satu buku per orang/tahun (0,098). Berbeda dengan di benua Eropa dan Amerika rata-rata sanggup menghasilkan 20-30 buku per orang setiap tahun. 

Angka ini, tegas Syarif, cukup menguatkan bahwa orang Indonesia bukan malas membaca, tetapi ketersediaan buku yang kurang.

"Anak-anak tidak membaca buku karena berbagai faktor," ucapnya.

Pertama, akses mendapatkan buku cukup sulit. Menurutnya, jika masyarakat disodori buku-buku yang sesuai, maka mereka akan sangat senang membaca.

“Faktor kedua bukunya jelek-jelek. Jadi bukan salah orang Indonesia-nya yang malas membaca, tetapi salahkan bukunya yang kebanyakan tidak menarik, bahkan sebagian merusak imajinasi anak,” ungkap Syarif.

Kepala Perpusnas RI mengungkapkan penyebab ana-anak Indonesia kurang membaca buku.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News