Ternyata Ini Penyebab Pemadaman Karhutla di Lokasi Ini Makin Sulit

Ternyata Ini Penyebab Pemadaman Karhutla di Lokasi Ini Makin Sulit
Semprotan air dari mobil Armoured Water Cannon (AWC) milik kepolisian membasahi lahan yang terbakar di Jalan Yos Sudarso, beberapa waktu lalu. Foto: AGUS PRAMONO/KALTENG POS

Menurut Norliani, karhutla sangat dipengaruhi pola iklim yang terjadi di Kalteng. Sebagai contoh El Nino pada 2015 lalu. Saat ini El Nino kembali terjadi setelah berselang waktu empat tahun.

"Iya, karhutla memang dipengaruhi iklim. Apabila sudah masuk musim kemarau, maka rawan terjadi kebakaran di lahan gambut yang terkena api secara sengaja maupun tidak," bebernya.

BACA JUGA: Ratusan The Jakmania yang Kecewa Adang Bus Pemain dan Ofisial Persija Jakarta

Lebih lanjut dikatakannya, saat ini sudah terbentuk Masyarakat Peduli Api (MPA), yang membantu menjaga wilayah masing-masing agar tak terjadi kebakaran hutan maupun lahan. Seperti halnya menjaga sumur bor. Tanggung jawab itu diserahkan kepada MPA.

“Sampai saat ini sumur bor berfungsi dengan baik. Tiga atau enam bulan sekali rutin dilakukan pengurasan,” tegasnya.

Selain itu, DLH pun selalu menjalin komunikasi dan koordinasi dengan penegak hukum maupun pihak-pihak terkait. (abw/ce/abe)


Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah menduduki peringkat tertinggi karhutla seluas 789,15 hektare. Hal itu, berbanding terbalik dengan Bartim yakni 0 hektare karhutla.


Redaktur & Reporter : Budi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News