Tradisi Unik Ini Bakal Jadi Kalender Pariwisata Bali April Mendatang

Tradisi Unik Ini Bakal Jadi Kalender Pariwisata Bali April Mendatang
Dua gajah mengikiti ritual Tradisi Tumpek Kandang di Bali. Foto: phri.or.id

Secara simbolis, beberapa satwa dikeluarkan dari penangkaran untuk diupacarai di antaranya gajah, siamang, owa jawa, beruang madu, dan binturong. Ritual yang digelar setiap enam bulan sekali itu digelar di pura setempat dengan dipimpin oleh pemuka agama Hindu.

Sebelum menjalankan ritual, pemuka agama setempat menghaturkan sesajen sebagai simbol penghormatan kepada dewa penguasa satwa yakni Sang Hyang Rare Angon sebagai perwujudan Dewa Siwa disertai doa-doa memohon keselamatan kepada seluruh satwa. "Perayaan hari suci ini juga berkaitan dengan konsep Tri Hita Karana," imbuhnya.

Tri Hita Karana merupakan filosofis masyarakat Bali dengan tiga harmonisasi hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam dan manusia dengan lingkungan. Ritual suci umat Hindu itupun menarik perhatian wisatawan terutama wisatawan mancanegara yang saat itu tengah berkunjung.

Sekadar informasi, untuk bebanten selamatan bagi sapi, kerbau, gajah, kuda, dan yang semacamnya dibuatkan bebanten: tumpeng tetebasan, panyeneng, sesayutdan canang raka. Selain itu, untuk selamatan bagi babi dan sejenisnya: Tumpeng-canang raka, penyeneng, ketipat dan belayag. Sementara untuk bebanten sebangsa unggas, seperti: ayam, itik, burung, angsa dan lain-lainnya.

Direktur Program Doktor Ilmu Agama Pascasarjana Institut Hindu Dharma Indonesia Negeri Denpasar, Dr I Ketut Sumadi mengatakan, ritual Tumpek Kandang, mempersembahkan rangkaian janur (banten) berkombinasi bunga, kue dan buah-buahan khusus untuk binatang piaraan yang diharapkan mampu meningkatkan pendapatan keluarga.

Dalam ritual yang digelar setiap 210 hari sekali itu umat Hindu memuja Ida Betara Siwa dalam manifestasi sebagai Rare Angon. Kata dia, ritual pada hari tersebut merupakan lambang korban suci untuk semua jenis binatang yang hidup di alam semesta, termasuk yang menjadi piaraan seperti sapi, kerbau, babi, dan ayam.

Tradisi Tumpek Kandang, ia melanjutkan, ditujukan untuk menyucikan binatang yang diharapkan bisa memberikan kesejahteraan bagi umat manusia. Masyarakat Bali mewarisi Tumpak Kandang untuk menjaga tradisi memelihara kelestarian alam, keseimbangan ekosistem dalam mewujudkan hubungan yang harmonis antara sesama umat manusia, serta antara manusia dengan lingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa (Tri Hita Karana).

Ketut Sumadi menjelaskan, dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap mengonsumsi daging yang bersumber dari hewan dan binatang.  "Mengkonsumsi daging hewan atau binatang sedikit banyak membawa pengaruh terhadap tabiat, sifat dan karakter manusia," ujar Ketut Sumadi.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News