Pilkada Solo

Tukang Jahit dan Ketua RW Melawan Anak Presiden, Wujud Perlawanan Rakyat?

Tukang Jahit dan Ketua RW Melawan Anak Presiden, Wujud Perlawanan Rakyat?
Balon Wali Kota dan wakil Wali Kota Surakarta Bagyo Wahyono-FX Supardjo (Bajo). Foto: ANTARA/Bambang Dwi Marwoto

Penulis buku 'Tapal Batas Indonesia' ini menilai, kehadiran calon independen di Solo juga bisa dimaknai sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni partai politik.

Ketika akses partai politik dinilai sangat rumit serta tidak ada aturan baku rekrutmen, maka calon kepala daerah mencari alternatif lain.

"Pasangan Bajo bisa jadi menjadi katarsis kekecewaan masyarakat karena begitu dominannya kekuatan calon yang didukung hampir semua partai politik," katanya.

Menurut pembimbing program doktoral di pascasarjana Universitas Padjajaran ini, masyarakat terkesan ingin menunjukkan gugatan, bahwa mereka bisa menghadirkan calon kepala daerah menurut versi mereka sendiri.

"Soal kalah menang adalah soal lain, jika membela kotak kosong adalah bentuk perlawanan yang tidak beradab, mungkin saja membela paslon dari jalur perseorangan adalah wujud perlawanan terhadap kemapanan," katanya.

Ari kemudian menyimpulkan, kondisi yang terjadi di Solo menjadi tantangan besar bagi partai politik untuk literasi politik kepada rakyat.(gir/jpnn)


Ari menilai munculnya lawan anak presiden yang berasal dari calon independen seorang penjahit dan ketua RW, merupakan wujud perlawananan rakyat.


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News