Jumat, 14 Desember 2018 – 16:53 WIB

Turun dari Mobil ke Markas Marinir, Lapor Kejadian G30 S/PKI

Kamis, 11 Oktober 2018 – 07:06 WIB
Turun dari Mobil ke Markas Marinir, Lapor Kejadian G30 S/PKI - JPNN.COM

jpnn.com - Alpiah Makasebape, perempuan 81 tahun asal Sangihe, merupakan mantan pengasuh Ade Irma Suryani Nasution. Meski sudah tua, dia mampu mengingat jelas masa 53 tahun silam itu.

Laporan: Sriwani Adolong, SANGIHE

SAMPAI sekarang Alpiah Makasebape masih belum percaya dia dipilih menjadi pengasuh Ade Irma, putri bungsu Jenderal Abdul Haris Nasution, yang menjadi salah satu korban tewas dalam peristiwa Gerakan 30 S/PKI.

Perempuan yang biasa disapa Oma Tintang ini mengisahkan, dirinya sejak usia muda sudah meninggalkan kampung halaman untuk meringankan beban orang tua. Mulai dari yang terdekat, Kota Tahuna, lanjut ke Manado, Makassar, dan Jakarta.

Di sini, Oma Tintang bergabung dengan Yayasan Tilaar yang menampung serta menyalurkan tenaga-tenaga perawat handal. Maklum, sebelum merantau, dia sempat bekerja di Rumah Sakit Umum Liun Kendage, Tahuna, selama beberapa tahun. Takdir pun mempertemukan Oma dengan keluarga Nasution.

Dari sekian banyaknya nursing home, perempuan asal Sangihe yang kala itu tidak terlalu lancar berbahasa Indonesia ini, dipercayai menjadi seorang pengasuh anak bangsawan. Sekira Maret 1960, kira-kira dua minggu setelah Ade Irma lahir (19 Februari 1960), Johana Sunarti Nasution mencari calon pengasuh buat putri keduanya di Yayasan Tilaar. Terpilihlah Oma Tintang.

Keraguan sempat muncul karena dia tidak percaya diri. Tapi, kebaikan hati Johana, serta jiwa mengayomi dari Jenderal Nasution saat dia mulai bertugas, membuat kepercayaan dirinya muncul. Dia pun menjadi sangat akrab dengan orang-orang yang tinggal di Jalan Teuku Umar No 40, Menteng, Jakarta Pusat, rumah kediaman Keluarga Nasution, termasuk puteri pertama mereka, Hendrianti Sahara (Yanti) dan Lettu Czi Pierre Andries Tendean, ajudan Nasution.

“Saya merasa bangga karena bisa menjaga anak perempuan yang sudah saya dianggap sebagai putri sendiri," kisah perempuan kelahiran Tamako, 25 Desember 1936 ini.

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar