Utusan PBB Dapat Izin Kunjungi Wilayah Uighur, tetapi Tangannya Diikat China

Utusan PBB Dapat Izin Kunjungi Wilayah Uighur, tetapi Tangannya Diikat China
Pelajar dari etnis Uighur mempelajari Alquran dan Hadis di Institut Islam Xinjiang, Kamis (03/01/2019). Lembaga tersebut difasilitasi pemerintah Tiongkok untuk mencetak para imam yang bebas dari pengaruh radikalisme dan ektremisme. Foto: ANTARA/M. Irfan Ilmie

Seorang diplomat Barat meragukan laporan SCMP, dengan mengatakan bahwa China dan Bachelet telah membahas kunjungan selama bertahun-tahun tetapi belum menyetujui kerangka acuan, yang di pihak Bachelet, termasuk akses bebas dan tak terbatas ke orang-orang yang dia pilih.

Dengan sesi lima minggu Dewan HAM PBB yang akan dimulai pada 28 Februari 2021, para aktivis dan diplomat mengatakan jendela diplomatik ditutup untuk Bachelet untuk menerbitkan laporan tersebut, yang diharapkan didasarkan pada penelitian kantornya sendiri dan wawancara dengan tersangka korban dan saksi di dalam dan di luar dari Xinjiang dan China.

Aktivis telah menyuarakan kekecewaan tentang keterlambatan penerbitan laporan PBB tentang situasi di Xinjiang.

Pada Desember tahun lalu, juru bicara Bachelet mengatakan bahwa kantornya sedang menyelesaikan penilaiannya terhadap situasi tersebut.

Seperti pada 2008, Olimpiade kembali menyoroti catatan hak asasi manusia China, yang menurut para kritikus telah memburuk sejak itu, membuat Washington menyebut perlakuan Beijing terhadap Muslim Uighur sebagai genosida dan mendorong boikot diplomatik oleh AS dan negara-negara lain.

“Tidak seorang pun, terutama diplomat hak asasi manusia terkemuka di dunia, bisa tertipu oleh upaya pemerintah China untuk mengalihkan perhatian dari kejahatannya terhadap kemanusiaan yang menargetkan Uighur dan komunitas Turki lainnya,” kata direktur Human Rights Watch wilayah China Sophie Richardson, dalam surat elektronik yang dikirimkan kepada Reuters pada Jumat. (ant/dil/jpnn)

 

Kementerian Luar Negeri China mengatakan bahwa kepala hak asasi manusia PBB dipersilakan untuk mengunjungi Xinjiang, tetapi tidak untuk tujuan penyelidikan.


Redaktur & Reporter : Adil

Sumber Antara

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News