Wahyu Hansudi, Perantau Asal Blitar Pemandu Wisata di Inggris Raya

Tolak Permintaan Tour ke Lokasi Esek-Esek, Beri Pemahaman Tentang Makna Liburan

Wahyu Hansudi, Perantau Asal Blitar Pemandu Wisata di Inggris Raya
PERANTAU SEJATI: Wahyu Hansudi (paling kiri) saat mengantar turis dari Jakarta yang mengunjungi Stadion Old Trafford di Manchester. FOTO: ist for JPNN.com

Pernah, suatu ketika Wahyu mendapat tamu dari Jakarta yang minta bisa bermain golf di St Andrews Golf Club, Skotlandia. Masalahnya, permintaan si tamu untuk bisa bermain golf di klub golf elite dan tertua di dunia itu terlalu mendadak. 

“Sore ketemu di London, tamunya langsung minta agar besok pagi bisa main golf di St Andrews. Saya harus telepon kanan-kiri ke sana kemari untuk bisa meyakinkan pihak St Andrews. Alhamdulillah bisa, dapat jadwal untuk bisa golf di sana,” katanya.

Menurut Wahyu, si tamu tak mempersoalkan berapa pun harganya asal bisa main golf di St Andrews dalam waktu yang singkat itu. Karenanya, Wahyu mengatur tiket pesawat dari London ke Edinburgh, Sekotlandia pergi-pulang, sekaligus mengatur transportasi dari bandara ke St Andrews. “Saya sodorkan harganya. Ternyata langsung menyanggupi nggak pakai nawar,” katanya menyebut angka dalam Pounds.

Bagaimana jika ada orang Indonesia yang minta diantar untuk ke lokasi wisata esek-esek di Inggris? Wahyu menuturkan, suatu ketika memang pernah ada public figure di Indonesia yang minta diantar ke tempat wisata esek-esek. Hanya saja, Wahyu memilih menolaknya secara halus.

“Wisata begituan memang menarik dan bisa mudah nyari duitnya. Tapi saya mencoba memberi pemahaman baru bahwa kalau mau holiday, bukan itu tujuan sebenarnya. Ada yang lebih baik untuk dituju di Inggris ini,” kilahnya. 

Ia pun bersyukur karena dengan konsisten seperti itu tetap saja ada tamu yang membutuhkan jasanya. Bahkan, anak pertama dari tiga bersaudara itu bisa menabung dan sesekali mengirim uang untuk ibunya di Blitar. 

Wahyu menuturkan, hampir setiap bulan selalu saja ada orang Indonesia yang membutuhkan jasanya. Namun, pada bulan Januari hingga Maret biasanya sepi.

“Pertengahan Januari sampai Maret biasanya cuaca juga sedang buruk-buruknya dan bukan waktu untuk berwisata. Paling ya penonton bola. Kalau sedang sepi ya biasanya disubsidi dari pihak istri,” kata suami Wahyuningsih itu sembari terkekeh.

Hidup di rantau, apalagi di negara lain dan jauh dari sanak saudara menuntut seseorang untuk bisa bertahan hidup. Itu pula yang dialami Wahyu Hansudi,

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News