JPNN.com

Waspada! Rokok Elektrik Sama Buruknya dengan Tembakau

Kamis, 30 Mei 2019 – 19:33 WIB Waspada! Rokok Elektrik Sama Buruknya dengan Tembakau - JPNN.com

jpnn.com - Anda tentu sudah tidak asing lagi dengan dampak negatif kebiasaan merokok. Namun, akhir-akhir ini, semakin banyak orang yang memiliki kebiasaan merokok jadi berpindah ke rokok elektrik atau e-cigarette. Para perokok ini mengira, rokok elektrik punya dampak negatif yang cenderung lebih ringan bila dibandingkan dengan berbagai zat beracun pada rokok tembakau. Sudah tepatkah hal tersebut?

Sekilas tentang rokok elektrik

Rokok elektrik atau banyak disebut sebagai vape adalah salah satu jenis dari penghantar nikotin elektronik. Ada tiga komponen utama dalam rokok elektrik, yaitu baterai, elemen pemanas, dan tabung yang berisi cairan.

Cairan dalam tabung tersebut berisi nikotin, propilen glikol atau gliserin, serta penambah rasa, seperti rasa buah-buahan dan cokelat. Beberapa rokok elektrik juga mempunyai baterai dan tabung cairan yang dapat diisi ulang.

Rokok elektrik bekerja dengan cara memanaskan cairan yang ada di dalam tabung, lalu menghasilkan uap seperti asap yang umumnya mengandung berbagai zat kimia. Pengguna pun mengisap zat kimia ini langsung dari corongnya.

Beberapa pakar mencoba untuk menjawab pertanyaan tersebut melalui salah satu penelitian yang dilakukan di University of Birmingham. Dari hasil penelitian tersebut, didapatkan bahwa penggunaan rokok elektrik berkaitan dengan terjadinya kerusakan sel penting pada sistem daya tahan tubuh. Hal ini dapat mengakibatkan dampak negatif yang tidak diketahui sebelumnya.

BACA JUGA: Asap Vape Mengandung Bahan Kimia Penyebab Kanker

Penelitian memaparkan bahwa asap yang timbul dari penggunaan rokok elektrik dapat menghambat fungsi dari sel daya tahan tubuh yang terdapat di paru-paru serta meningkatkan risiko terjadinya peradangan. Karena itu, para peneliti menyanggah opini publik yang menganggap bahwa rokok elektrik dapat digolongkan sebagai aman.

Tidak seberbahaya tokok tembakau?

Sumber klIkdokter

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...