Who Are We?
Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Akan ada tessi-antitesis, dan sintesis baru dalam identitas sebuah bangsa.
Malaysia dan Singapura, tetangga terdekat Indonesia, mempunyai identitas budaya yang tidak berbeda jauh dengan Indonesia.
Pemimpin Malaysia, Mahathir Mohamad dalam ‘’The Malay Dilemma’’ (1971) mengkritik bangsa Melayu (disebutnya sebagai bumiputera) sebagai bangsa yang malas karena sudah terbiasa dimanja oleh alam.
Bangsa Melayu, kata Mahathir, juga adalah bangsa yang lemah, suka berkompromi, tidak berani mempertahankan pendiriannya, karena itu mudah sekali jatuh ke dalam penjajahan bangsa asing.
Pemimpin Singapura, Lee Kuan Yew (1923-2015), juga mempunyai pandangan yang sama terhadap bangsanya.
Bangsa Singapura yang mayoritas China oleh Lee dikritik karena malas, jorok, suka judi, dan tidak bertanggung jawab.
Dalam biografinya ‘’The Singapore Story; Memoirs of Lee Kua Yew’’ (1998) Lee menceritakan bagaimana pada 1960-an Singapura yang masih menjadi bagian dari Malaysia adalah daerah yang kumuh, kotor, dan terbelakang.
Pendidikan masyarakatnya rendah dan etos kerjanya sulit diajak bekerja keras.
Dalam bukunya Who Are We: The Challenges to America’s National Identitiy, Huntington mengatakan identitas nasional Amerika berada dalam bahaya.
- Dunia Hari Ini: Amerika Serikat Sepakat untuk Membangun Kembali Ukraina
- Realisasi Investasi Jakarta Triwulan I-2025 Capai Rp 69,8 Triliun, Tertinggi di Indonesia
- Ibas Tegaskan Indonesia dan Malaysia Tak Hanya Tetangga, Tetapi..
- Respons Kritik AS soal QRIS, Waka MPR Eddy Soeparno: Terbukti Membantu Pelaku UMKM
- Amnesty International: Praktik Otoriter dan Pelanggaran HAM Menguat di Indonesia
- Menteri Karding Siapkan Strategi soal Lonjakan Pekerja Migran Ilegal ke Myanmar-Kamboja