WNI Ini Sebut Banyak Ranjau Targetkan Warga Sipil di Kyiv

WNI Ini Sebut Banyak Ranjau Targetkan Warga Sipil di Kyiv
Ilustrasi - Pemandangan menunjukkan daerah perumahan yang rusak akibat penembakan saat serangan Rusia di Ukraina berlanjut, di kota Irpin, di wilayah Kyiv, Ukraina, Selasa (29/3/2022). ANTARA FOTO/REUTERS/Serhii Mykhalchuk/foc/sad.

Rusia menilai penggunaan ranjau diperlukan untuk menghentikan aliran senjata, obat-obatan, dan teroris.

Dengan begitu, Rusia menggunakan ranjau antipersonel di wilayah-wilayah jajahan mereka seperti Chechnya, Dagestan, Tajikistan, dan perbatasan dengan Georgia sejak 1999.

Rusia telah memproduksi 10 jenis rantau antipersonel sejak 1992 yang terdiri dari ranjau ledakan dan ranjau fragmentasi.

Adapun jenis ranjau ledakan yang diproduksi Rusia ialah PMN, PMN-2, PMN-4, dan PFM-1S.

Sementara itu, jenis ranjau fragmentasinya ialah POMZ-2, OZM-72, MON-50, MON- 90, SEN-100, dan SEN-200.

Negara bekas Soviet itu mengekspor produksi ranjau ke 30 negara, salah satunya Suriah.

Sejak 2012, tentara Suriah telah menggunakan ranjau antipersonel PMN-2 dan PMN-4 serta ranjau antikendaraan TMN-46 dan TM-62 di sepanjang perbatasannya dengan Lebanon dan Turki.

Kelompok bersenjata Batalyon Zarya yang beroperasi di Donetsk dan Lugansk Ukraina Timur juga memasang ranjau antipersonel PMN-4 dan ranjau antikendaraan TM-62M sejak 2014.

WNI ini mengaku melihat tentara Rusia menanam ranjau darat di daerah perkotaan yang dihuni warga sipil.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News