Jumat, 28 November 2014 | 20:19:24
Home / Nasional / Hukum / John Key Disidang di Surabaya

Jumat, 21 November 2008 , 10:20:00

AMBON - Tokoh preman Jakarta, John Refra alias John Key dan Tito Refra, Kamis (20/11) dikirim ke Surabaya untuk disel di Mapolda Jatim. Tersangka kasus penganiayaan sadis di Maluku Tenggara itu diangkut dengan pesawat khusus kepolisian dengan kawalan ketat pasukan Brimob dan Densus 88/Antiteror.

Sekitar pukul 08.00 WIT, John Key dan Tito dikeluarkan dari tahanan Polda Maluku. Menggunakan bus Densus 88, dia dibawa ke Bandara Pattimura, kemudian diterbangkan ke Surabaya. Wakapolda Maluku Kombespol Benny Kilapong ikut serta dalam pemberangkatan tersebut.

Sekitar 20 anggota Brimob dan Densus 88 pun tidak hanya mengawal John Key dan Tito sampai di bandara. Di pesawat aparat juga menempel ketat dua preman yang sering malang melintang di Jakarta itu. Di kursi pesawat, anggota Brimob memagari keduanya dengan duduk di kursi samping, depan, dan belakang. Mereka terus siaga hingga John Key dan Tito masuk tahanan Polda Jatim sekitar pukul 18.00 WIB.

John Key dan Tito menjadi tahanan kejaksaan sejak 5 November lalu setelah menjadi tersangka kasus penganiayaan dua warga Maluku Tenggara, yakni J. Refra, 24, dan C. Refra, 22, pada 26 Juni 2008. Kedua korban itu dipotong empat jari tangan kirinya sehingga harus menderita cacat seumur hidup.

Setelah pemeriksaan di kejaksaan rampung, keduanya dikirim ke Surabaya untuk disidang. Mengapa ke Surabaya? Sumber koran ini menyebutkan, pengadilan di Maluku mengkhawatirkan kondisi keamanan jika keduanya disidang di sana. Sebab, mereka memiliki banyak anak buah yang setiap saat bisa mengganggu jalannya sidang.

Wakajati Maluku Babul Khoir Harahap mengakui bahwa pemindahan tempat sidang keduanya demi alasan keamanan.

"Pemindahan bukan dari kejaksaan, tapi dari Pengadilan Tinggi Maluku dan Mahkamah Agung (MA), dengan pertimbangan keamanan. Jadi, tidak ada unsur lain, hanya karena masalah keamanan," ujarnya kepada Ambon Ekspres (Jawa Pos Group) kemarin.

Khoir menjelaskan, dalam perundang-undangan peralihan tempat sidang sudah diatur dengan jelas. "Pasal 65 KUHP memperbolehkan itu. Kalau memang alasannya masalah keamanan, dapat dilakukan peralihan,'' jelasnya.

Dia menepis anggapan publik yang menyebut kejaksaan tidak mampu menyelesaikan kasus ini. "Bukan jaksanya tidak mampu, tapi alasan keamanan," tegasnya.

Sebelumnya, pada saat penyerahan kasus Jhon Key dan Tito ke Kejati Maluku, personel polisi diturunkan untuk mengamankan kantor Kejati. Hingga kemarin sejumlah polisi berpakaian preman masih terlihat berjaga-jaga di kantor Kejati Maluku. Mereka menyebar ke segala sudut sekitar kantor tersebut. Mulai tempat parkir hingga ruang tunggu.

John Key tiba di Bandara Juanda sekitar pukul 17.00. Mereka menaiki pesawat Cassa milik Polri. Tiba di Surabaya, dia langsung mendapat pengawalan ekstra.

Tak tanggung-tanggung, mereka dikawal lebih dari 100 personel gabungan Polda Maluku dan Polda Jatim. John dan adiknya, Tito, sama-sama mengenakan kaus merah. John dengan rambut panjangnya tampak santai. Sedangkan Tito yang bertopi terlihat sedikit tegang.

John yang disebut-sebut sebagai bos preman itu dimasukkan ke mobil tahanan khusus yang dilapisi baja. Di belakang kendaraan itu dua truk milik Samapta mengawalnya hingga ke Mapolda. Rombongan tersangka kasus penganiayaan berat tersebut tiba di Mapolda pukul 17.30.(nia/cr1/jpnn/fid/nw)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar
      1. 28.08.2011,
        20:07
        jerry. evaw besar
        layak dihukum karena kesadisannya, tapi sangatlah berlebihan kalau pengawalannya sangat ketat, nanti besar kepala alias sombong
      2. 28.08.2011,
        20:04
        jerry.
        seorang penjahat layak dihukum,tapi sangat berlebihan kalau pengawalannya brlebihan dan besar kepala