Nepal Larang Penyandang Disabilitas Mendaki Everest

Nepal Larang Penyandang Disabilitas Mendaki Everest
Pemandangan pegunungan Everest dari Tengboche, sekitar 300 km dari Kathmandu (diambil 4 Mei 2017). Foto: AFP

jpnn.com, KATHMANDU - Nepal menerapkan sejumlah peraturan baru terkait pendakian di Pegunungan Himalaya. Termasuk di antaranya melarang pendakian solo dan larangan bagi penyandang disabilitas.

"Peraturan ini diterapkan untuk membuat pendakian lebih aman dan mengurangi angka kecelakaan," ujar Menteri Kebudayaan Pariwisata dan Penerbangan Sipil Maheshwor Neupane kepada AFP.

Setiap tahun ratusan pendaki memulai ekspedisi Himalaya mereka dari Nepal, dengan Gunung Everest sebagai destinasi favorit. Sayangnya, di Everst saja, enam sampai delapan pendaki kehilangan nyawa setiap tahunnya.

Pendaki kawakan asal Swiss Ueli Steck adalah salah satu korban Himalaya tahun ini. Dia terpeleset ketika berusaha menaklukan puncak Nuptse.

Peraturan baru ini diprediksi akan memicu kemarahan para pendaki elite yang menganggap menaklukkan puncak tertinggi dunia sebagai sebuah tantangan.

Mereka berpendapat bahwa makin banyaknya ekspedisi komersial di Everest sebagai penyebab tingginya angka kecelakaan dan kematian.

Penyandang disabilitas juga terdampak kebijakan baru pemerintah Nepal. Pendaki buta dan yang kedua kakinya cacat kini dilarang mendaki Himalaya.

Kebijakan ini dengan cepat dicap sebagai bentuk diskriminasi. "Ini adalah diskriminasi terhadap kalangan disabilitas, melanggar HAM," tulis Hari Budha Magar, seorang tuna daksa yang bercita-cita mendaki Everest, di Facebook. (AFP/dil/jpnn)


Nepal menerapkan sejumlah peraturan baru terkait pendakian di Pegunungan Himalaya


Redaktur & Reporter : Adil

Sumber AFP

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News