Senin, 02 Maret 2015 | 23:34:53

Sabtu, 26 Mei 2012 , 15:01:00

Sejarah memang membosankan. Sejarah itu masa lalu, kuno, dan konsumsi orang-orang beruban saja. Sejarah itu hanya ada di literatur, kitab-kitab jadul, dan tersimpan di gedung museum yang kotor dan horor penuh hantu. Sejarah itu jauh dari komunitas anak-anak muda yang trendi dan gaul. Setidaknya itulah asumsi awam. Tetapi, tidak buat Taiwan!

Mereka sukses merevitalisasi sejarah masa silam menjadi “sesuatu banget”  dan anak muda sekali. Bagaimana bisa? Itu yang perlu kita copy paste, agar anak-anak muda kita tidak semakin kehilangan akar sejarah. Saya sempat mengunjungi beberapa objek-objek wisata berbasis sejarah.

Dari Benteng San Domingo yang dibangun era pendudukan Spanyol 1629, Benteng Hobe atau Huwei yang dibangun era Dinasti Qing 1880, bangunan Chiang Kai Shek Memmorial Park di pusat kota Taipei, hingga puncaknya di National Palace Museum, salah satu museum seni yang paling tersohor di Taiwan dan memiliki 677.687 koleksi barang peninggalan kekaisaran China.

Semula saya juga agak sewot, mengapa masuk museum saja tidak boleh membawa kamera, tidak boleh berisik atau berbicara keras-keras, tidak boleh menjepret pakai HP, tidak boleh pegang ini itu, dan terlalu banyak larangan! Seperti mau nonton mummi di Pyramide, Mesir saja. Saya sempat ngambek, dan memutuskan untuk ogah mengikuti tur itu. Bahasanya mantan Presiden Soeharto, “Gak masuk gak patheken!” (Tidak masuk tidak jadi soal, red).

Tapi, niat saya itu tiba-tiba harus saya urungkan. Pertama, saya heran seribu heran, mengapa yang masuk kok banyak anak-anak muda? Yang modis-modis? Kedua, jumlah pengantrenya kok makin panjang? Apa sih, kok anak-anak muda begitu antusias? Ketiga, saya tertarik dengan si guide, perempuan Tionghoa, muda dan suaranya enak di dengar melalui earphone yang sudah dibagikan satu-satu. Apalagi dia memperkenalkan diri sebagai tenaga volunteer, menjadi pemandu informasi seputar artefak yang berhasil dikoleksi museum itu.

Perempuan berambut lurus itu sangat lincah menjelaskan aneka barang dan memperkaya dengan foto-foto di I-Pad warna putih yang dia tenteng. “Saya sebenarnya seorang banker, saya kerja di perbankan, karena itu kalau nanti ada pertanyaan yang saya tidak bisa menjawabnya, saya minta maaf, saya akan cari tahu dan berusaha menjelaskan dengan sebaik-baiknya,” akunya, jujur.

Pikiran saya langsung melayang ke Monumen Nasional Jakarta, Monumen Ronggowarsito di Solo, Keraton Jogjakarta, Keraton Surakarta, Museum Radyopustoko, Museum Sangiran di Sragen, Candi Borobudur Magelang, Candi Prambanan perbatasan Jogja-Klaten, dan masih banyak museum lain.

Mengapa tidak pernah terpikir, pengelola museum itu merekrut orang-orang professional, yang cantik, yang suaranya bagus, yang performance-nya keren, yang muda, yang  serba wow? Paling tidak, yang sudah dilakukan di museum yang didesain Huang Baoyu dan konstruksinya dibangun pada Maret 1964 sampai Agustus 1965 itu sudah “mengubah pikiran” saya.

Terus terang, saya tidak terlalu hirau dengan koleksi karya umat manusia yang sudah dibuat sejak zaman 2.500 tahun sebelum masehi, zaman perunggu, zaman batu, zaman keramik, zaman kertas, dan zaman kaligrafi itu. Saya lebih terkesan oleh cara mereka mengemas dan “menjual” museum itu sehingga menjadi lima besar museum yang paling banyak dikunjungi orang di seluruh dunia itu.

Lantainya dibuat dari kayu coklat tua yang menjaga suhu tidak terlalu dingin, juga tidak terlalu panas. Lighting yang tidak terlalu terang, juga tidak terlalu gelap, dengan lampu putih yang menyorot ke barang-barang bernilai budaya tinggi itu. Jarak antara barang yang satu dengan lainnya dibuat sangat ideal, berurutan dan seperti sudah bercerita sendiri.

Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar