Senin, 24 November 2014 | 00:03:01
Home / Jabodetabek / Penderita Gizi Buruk Meningkat

Minggu, 21 Oktober 2012 , 01:04:00

BERITA TERKAIT

CIBINONG - Potret buram dunia kesehatan di bumi Tegar Beriman kembali menoreh pilu. Lagi-lagi ditemukan kasus balita dengan gizi buruk (marasmus) yang harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit.
   
Selayaknya bayi di usia dua tahun, Warni seharusnya sudah bisa berjalan dan melafalkan sejumlah kata. Namun, putri bungsu pasangan Sujai (40) dan Amiati (25) itu hanya bisa terkulai lemas tak berdaya di timangan ibunya. Warni (2), balita dengan gizi buruk terpaksa dilarikan keluarganya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibinong, karena terus mengalami kejang dan demam.
   
Berat badan Warni hanya 5,8 kilogram dengan panjang badan 69 sentimeter. Di usia dua tahun, ukuran normal berat badan bayi adalah 9-10 kilogram dengan panjang badan lebih kurang 90 sentimeter. Sebelumnya, Sujai sang ayah sudah membawanya ke Puskesmas. Namun karena dinilai parah, dokter merujuk agar Warni segera dilarikan ke rumas sakit.
   
“Karena kejang-kejang dan badannya itu panas. Akhirnya kami bawa ke sini (RSUD Cibinong),” ujar warga Desa Gintungcilejet, RT 15/5, Kecamatan Parungpanjang seperti yang dilansir Radar Bogor (JPNN Group), Minggu (21/10).
   
Sembari menemani Warni mendapat perawatan, Sujai menuturkan kisah pilu putri bungsunya itu. Menurut dia, sesaat setelah lahir, Warni sempat terdiam selama sepuluh menit. Bayi mungil itu tak menangis layaknya bayi yang baru lahir. Bahkan, sang dukun beranak yang membantu persalinan sempat mengatakan bahwa putri mereka telah tiada. “Tapi sepuluh menit abis lahiran dia nangis. Syukurlah,” kenang Sujai dengan pandangan kosong.
   
Warni adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Ia sedikit berbeda dengan kedua kakaknya Ade Sutisna (16) dan Jamilah (9). Sejak lahir Warni sering kejang dan demam hingga umur 1,5 tahun. Ketika usia 15 hari, Warni mengalami bisul di wajahnya. Bocah mungil itu pun hingga kini masih mengonsumsi susu dan belum lancar mengunyah.
   
“Kami hanya bisa pasrah mengandalkan kartu Jamkesda. Mudah-mudahan ada dermawan yang membantu,” ucapnya.
   
Dokter Spesialis Anak RSUD Cibinong, dr Tin Suhartini menjelaskan, diagnosa awal menunjukan tanda vital yakni bentuk tubuh tak ideal, demam, serta gangguan motorik cerebral palsy. Artinya, ada masalah pada otak hingga Warni tak bisa bergerak normal.
   
Sedangkan bentuk tubuh, lingkar kepala Warni hanya 44 sentimeter, panjang badan 69 sentimeter dan berat badan 5,8 kilogram. Bayi normal seharusnya memiliku ukuran lingkar kepala di atas 49 sentimeter, panjang badan 90 sentimeter dan berat 9-10 kilogram.
   
“Saat ini kita fokus mendiagnosa infeksi dan segera mengobatinya. Baru kita beri edukasi kepada orangtua dan mencari tau penyebab kenapa bayi bisa menderita ini,” paparnya.
   
Warni masih harus mendapatkan perawatan dan sejumlah pemeriksaan penunjang. Seperti elektrolit ronsen, pemeriksaan infeksi, epilepsi hingga CT Scan untuk mencari kelainan pada syaraf. Mengingat, Warni diketahui belum banyak bergerak semenjak ia lahir.  “Dia juga cuma bisa teriak dan tidak bicara pada kita,” imbuh dr Tin.
   
Warni lahir dengan pertolongan dukun beranak, 29 September 2010. Saat usianya 40 hari, kondisi fisik balita itu mulai menunjukan kelainan. Kepala Puskesmas Parungpanjang, dr. Muhammad Irfan mengatakan, dari data Puskesmas, sejak umur 40 hari, bidan Desa sudah menjalin kontak untuk memberikan pelayanan pada balita tersebut.
   
Setiap bulannya, kata dia, bidan desa dan kader juga memberikan pelayanan posyandu di dekat rumah Warni. Sehingga di tahun pertama, Balita tersebut cukup terpantau oleh Puskesmas. Tak seperti kebanyakan balita, perkembangan fisik Warni tidak normal. Umur 4 bulan, bayi tersebut bahkan belum bisa mengangkat kepalanya sendiri.
   
“Saat umur 9 bulan, sudah diperhatikan secara serius karena berat badannya waktu itu hanya 6 kilogram,” ujar kepala Puskesmas Parungpanjang, dr Muhammad Irfan.
   
Menurut dia, berat normal bayi perempuan usia 9 bulan, antara 6.5 kg-10.5kg. Dengan hanya memiliki berat 6 kg, kata Irfan, Warni tergolong sebagai balita gizi kurang. Untuk memulihkan gizi balita tersebut, Warni pernah ditangani Centra Klinik Gizi di Puskesmas tersebut dan diberi makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI).
   
“Karena lokasi rumahnya jauh ke Puskesmas, MP–ASI kita kirim ke Puskesmas pembantu di Desa Gintungcilejet, dan diserahkan seminggu sekali pada hari Jumat,” katanya.
   
Relawan kesehatan Bogor Barat, Dessy Suprihartini atau yang akrab disapa Ibu Uun menilai penanganan kasus gizi buruk di Parungpanjang masih belum optimal. Menurut dia, seharusnya, ketika diketahui ada kelainan perkembangan fisik balita, langkah pertama yang harus ditangani adalah mendeteksi penyebabnya.
   
“Seharusnya, saat usianya 9 bulan dan perkembangan fisiknya tidak baik, bayi tersebut di rujuk ke RS anak untuk diagnosa penyebabnya,” kata dia.
   
Pemberian makanan pendamping asi, kata dia, dilakukan setelah penyakit utama diobati. “Ke depan kita berharap, pemeriksaan balita bisa dilakukan lebih baik lagi. Jangan hanya memberi makanan tambahan, tapi harus ada pengobatan,” katanya.
   
Di Kabupaten Bogor, pada 2010 periode Januari-November ditemukan 244 kasus gizi buruk. Terdiri dari 67 anak Marasmus, 4 anak Kwashiorkor, 4 anak Marasmus Kwashiorkor dan 169 anak kurus sekali. Marasmus yakni balita yang kekurangan sumber energi seperti karbohidrat dan lemak, kwashiorkor adalah balita kekurangan protein dan marasmus kwashiorkor adalah gabungan keduanya.
   
Sementara di Kota Bogor, jumlah kasus gizi buruk masih meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2010, tercatat 297 balita terkena gizi buruk. Kemudian pada 2011 meningkat menjadi 555 balita dan 2012 periode Januari-Juli sudah tercatat 22 balita. (ric/ful)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar