139 Pengungsi Dilaporkan Meninggal, Indonesia Diminta Tarik Pasukan dari Nduga

139 Pengungsi Dilaporkan Meninggal, Indonesia Diminta Tarik Pasukan dari Nduga
139 Pengungsi Dilaporkan Meninggal, Indonesia Diminta Tarik Pasukan dari Nduga

Menurut Hipolitus, data jumlah pengungsi yang meninggal itu dikumpulkan sendiri oleh relawan yang bertugas di Wamena selama delapan bulan terakhir.

"Dari berbagai tempat pengungsian, hanya di Wamena satu-satunya yang ada tim relawan kemanusiaannya. Tim ini sebagian besar orang Nduga sendiri sehingga ada kedekatan bahasa dengan pengungsi," jelasnya seraya menambahkan, orang Nduga memiliki bahasa tersendiri yang berbeda dengan orang Papua lainnya.

Bantahan dari Pemerintah Indonesia, menurut Hipolitus, wajar saja sebagai sikap reaksioner karena mereka hanya mendapatkan laporan dari aparat pemerintah daerah maupun dari pihak militer.

"Para pengungsi di Wamena lebih mempercayai relawan kemanusiaan yang sama bahasanya, sedangkan aparat Pemerintah Indonesia selama 8 bulan ini kemana saja?" katanya.

Menurut dia, para pengungsi di tempat lain seperti di Jayawijaya serta yang melarikan diri ke hutan juga tidak terdata berapa jumlah yang meninggal sejak operasi gabungan TNI/Polri berlangsung di Nduga.

Sementara titik pengungsian di Wamena, menurut laporan Relawan Kemanusiaan, berada di 36 titik, sehingga satu honai (rumah tradisional) bisa menampung hingga ratusan jiwa.

139 Pengungsi Dilaporkan Meninggal, Indonesia Diminta Tarik Pasukan dari Nduga Photo: "Para pengungsi di Wamena lebih mempercayai relawan kemanusiaan yang sama bahasanya, sedangkan aparat Pemerintah Indonesia selama 8 bulan ini kemana saja?" (Hipolitus Wangge: Istimewa)

Laporan investigasi juga menyebut adanya penangkapan terhadap empat pengungsi yang dicurigai terkait dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) pimpinan Egianus Kogeya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News