15 Tahun Lumpur Lapindo, Masyarakat Terdampak Susah Dapatkan Air Bersih

15 Tahun Lumpur Lapindo, Masyarakat Terdampak Susah Dapatkan Air Bersih
Poster aksi dari Komunitas Kecil Bergerak Indonesia (KKBI) memperingati 15 tahun bencana lumpur lapindo. Foto: Dok. KKBI untuk JPNN

jpnn.com - Sudah 15 tahun berlalu, tetapi penderitaan akibat bencana lumpur Lapindo tak kunjung selesai. Semburan terus berdampak ke warga sekitar. Ganti rugi tanah hingga rusaknya lingkungan sekitar masih dirasakan. 

Komunitas Kecil Bergerak Indonesia melakukan aksi memperingati belasan tahun lumpur Lapindo pada Sabtu (29/5) lalu. Hal itu sebagai bentuk protes penanganan bencana yang belum dirasakan warga Dusun Polo Gunting, Desa Gempol Sari, Sidoarjo. 

Selama bertahun-tahun korban lumpur Lapindo terpaksa menggunakan air asin yang tak layak pakai untuk kebutuhan sehari-hari. 

"Sudah berbagai cara dilakukan warga untuk menyuarakan persoalan ini, tetapi justru pengabaian yang mereka dapatkan," ujar Ketua Komunitas Kecil Bergerak Indonesia Dandy Glen saat dihubungi, Senin (31/5).

Aksi "Babak Belur di Kota Lumpur" itu menggambarkan betapa remuknya warga yang harus menanggung dampak praktik ekstraktif tambang tidak bertanggung jawab. Bencana juga mengganggu kehidupan sekaligus ketidakpastian masa depan bagi warga. 

"Kami saat itu tidak hanya memberikan kritik saja, tetapi membuat solusi kecil yang nyata untuk manfaat warga sekitar. Suplai air akan kami kirim seminggu sekali," kata dia. 

Sementara itu, Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor Ali berharap negara bisa hadir untuk mengakomodir dan menyelesaikan masalah tersebut karena sudah diambil alih oleh pemerintah pusat. 

"Sudah menjadi wewenang pusat karena dinilai sebagai bencana nasional, tugas kami hanya advokasi dan fasilitator saja," kata dia. 

Selama belasan tahun warga Dusun Polo Gunting, Desa Gempol Sari kesulitan mendapatkan air bersih dampak dari lumpur lapindo