Minggu, 20 Januari 2019 – 09:36 WIB

25 Desa Terisolasi Aliran Listrik

Selasa, 12 Maret 2013 – 11:41 WIB
25 Desa Terisolasi Aliran Listrik - JPNN.COM

PALEMBANG – Hingga tahun lalu (2012), dari 3.186 desa di Sumatera Selatan, sudah 2.725 desa di Sumsel yang berlistrik (dialiri listrik). Capaian 85,53 persen ini ada yang diterangi listrik PLN dan ada juga yang listrik non PLN. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Sumsel, Ir Roberth Heri dalam seminar kelistrikan di Hotel Swarna Dwipa.
 
”Kalau melihat jumlah itu, artinya masih ada 461 desa lagi yang belum teraliri listrik,” ucapnya, dua hari lalu. Ia merinci, untuk desa berlistrik yang jaringannya dibangun PLN sebanyak 2.360 desa. Sedangkan yang dibangun pemerintah daerah (pemda) melalui dana APBD ada 332 desa.

Untuk desa berlistrik non PLN, 15 desa menggunakan listrik dari PLTMH (pembangkit listrik tenaga mikro hidro), lalu 187 desa diterangi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

”Tapi masih ada 25 desa yang isolated (terisolasi) sehingga sulit terjangkau jaringan listrik,” beber Roberth. Secara umum, per 2012 rasio elektrifikasi Sumsel 70, 24 persen dan rasio desa berlistrik di Sumsel mencapai 85,53 persen.

Diungkapnya, saat ini terdata enam lokasi yang punya potensi energi panas bumi (geothermal) di Sumsel. Rincinya, di Tanjung Sakti (Lahat) dengan potensi spekulatif 50 MWe. Lalu di Rantau Dedap (Muara Enim) dengan potensi spekulatif 225 MWe, di Lumut Balai (Muara Enim) dengan potensi hipotetik 235 MWe dan  cadangan terduga sekitar 600 MWe.

Lalu di Ulu Danau (OKUS), dimana potensi spekulatif 225 MWe dan potensi hipotetik 6 MWe. Kemudian di Marga Bayur (OKUS) dengan potensi hipotetik 145 MWe dan cadangan terduga sebesar 194 MWe. Juga ada di Wai Selabung (OKUS) dengan  potensi spekulatif 225 MWe dan potensi hipotetik 6 MWe. “Menurut data kita, total potensi panas bumi Sumsel sekitar 1.191 MWe,” ucapnya.

Sudah ada Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 2067.K/30/ MEM/2012 tanggal 18 Juni 2012. SK itu mengatur dan menegaskan wilayah kuasa (WK) dan perubahan batas-batas koordinat pengusahaan energi panas bumi oleh PT Pertamina Geothermal Energy.

Dimana lapangan panas bumi Lumut Balai - Marga Bayur, seluas 226 ribu ha yang masuk dalam wilayah Muara Enim, OKU dan OKUS (Sumsel) dan kabupaten Kaur (Bengkulu) direncanakan akan dibangun pembangkit listrik tenaga panas bumu (PLTP) berkapasitas 4 x 55 Mwe. “Dari kapasitas tersebut, akan mulai beroperasi 2 x 55 MWe dulu pada 2015,” bebernya.

Untuk lapangan panas bumi Hulu Lais seluas 289.300 ha terletak di Mura (Sumsel) serta Kabupaten  Rejang Lebong dan Bengkulu Utara (Bengkulu), direncanakan dibangun PLTP berkapasitas 2 x 55 MW yang akan mulai operasi 2014. Lalu, lapangan panas bumi Rantau Dedap - Segamit seluas 35.460 ha pengusahaannya diberikan kepada PT Supreme Energy Rantau Dedap.

Ini tertuang dalam SK Gubernur Sumsel Nomor 917/KPTS/DISPERTAMBEN/ 2010 tentang Izin Usaha Pertambangan (IUP) panas bumi yang meliputi wilayah kerja Muara Enim, Lahat dan Pagaralam. Pembangunan PLTP kapasitas 2 x 110 MW di sana direncanakan mulai operasi 2017. Sedang lapangan panas bumi Danau Ranau seluas 8.561 ha dengan potensi 210 MW di OKUS (Sumsel) dan Lampung Barat (Lampung), pelaksanaan lelang wilayah kuasa pertambangannya oleh Ditjen EBTKE Kementerian ESDM pada tahun ini.

Sebelumnya, Direktur Operasional Indonesia Barat PT PLN (persero) Ir H Moch Harry Jaya Pahlawan GKN Dipl.Ec MSc QIA mengatakan, PLN terus berusaha mengejar target sebagai perusahaan kelas dunia. “Target 2015 masuk dalam  25 persen terbaik di Asia. Lalu pada 2020, masuk dalam 10 persen terbaik Asia dan 2025 masuk dalam 25 persen terbaik dunia,” imbuhnya.

Nah, ada 63 subsistem dalam sistem kelistrikan operasi Indonesia Barat. Dimana enam  sistem mikro dengan BP < 1 MW, lalu 33 sistem kecil dengan 1 < BP < 10 MW, 19 sistem menengah dengan 10 < 10 < 100 MW dan lima sistem besar dengan BP > 100 MW. Untuk wilayah Sumbagselteng, komposisi fuel mix pembangkitan sudah cukup seimbang.

“Dimana pembangkit yang menggunakan bahan bakar batu bara cukup mendominasi dengan 38,54 persen dan gas 37,06 persen,” tukas Harry. Sisanya, masih menggunakan minyak 4,20 persen, panas bumi 5,33 persen dan air 14,87 persen.(tha/ce2)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar