Adian Napitupulu: Mengawasi Hati Lebih Kejam dari Fasis dan Rasis

Adian Napitupulu: Mengawasi Hati Lebih Kejam dari Fasis dan Rasis
Adian Napitupulu saat wawancara dalam program Ngomongin Politik (NGOMPOL) JPNN.com. Foto: Fais Nasruloh

Pasti akan lebih rumit lagi kalau akibat dari yang dilakukan Andre mengawasi anggota DPR yang lain menjadi kebiasaan, lalu hubungan sesama kolega di DPR saling mengawasi, saling intip, saling mencari salah dan kelemahan.

Andre memang beda, energinya berlebihan. Mulai dari mengawasi pemerintah, mengawasi PSK dan sekarang mengawasi suasana hati sesama anggota DPR yang Andre duga kecewa karena temannya diberhentikan dari BUMN.

Dahsyat luar biasa. Kalau fasis mengawasi pikiran, rasis mengawasi warna kulit. Kalau mengawasi hati kayaknya lebih kejam dari fasis dan rasis.

Tetapi kalau dipikir-pikir, ternyata saya menangkap sinyal dari Andre yang membuat saya bisa melihat sisi positif dari pernyataannya.

Andre sepertinya justru melemparkan umpan yang mengharapkan sambutan saya dalam bentuk paparan yang lebih luas.

Semacam ajakan, agar saya tidak hanya bicara kebijakan anggaran, tetapi juga berbicara kebijakan penempatan komisaris. Hmmmm ngeri-ngeri sedap nih.

Saya sih tidak masalah jika kita membahas kebijakan penempatan komisaris dengan catatan apakah kita siap membuka kotak pandora?

Ketika kotak pandora dibuka, maka semua tali temali masa kini dan masa lalu di setiap pemerintahan terbongkar hingga era Orde Baru. Nama-nama mafia migas akan kembali muncul ke permukaan, kait mengkait dengan puluhan ribu kepentingan bisnis dan politik di tiap pemerintahan terbuka lebar.

Adian Napitupulu menanggapi pernyataan Andre Rosiade terkait kritikan politikus PDIP itu ke Menteri BUMN Erick Thohir.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News