AS-Eropa Sepakat Sanksi Berat Libya

AS-Eropa Sepakat Sanksi Berat Libya
Kelompok bersenjata anti-Moammar Khadafi. Foto: AP Photo/Hussein Malla

Langkah itu cukup penting. Sebab, 85 persen minyak Libya dikonsumsi pasar Eropa. Pekan lalu Inggris dan Swiss membekukan aset milik Kadhafi dan keluarganya. Menurut Westerwelle, represi Kadhafi terhadap demonstran adalah perbuatan kriminal. "Kita harus melakukan langkah-langkah penting agar pembantaian ini segera berakhir," ungkap menteri berumur 49 tahun tersebut.

Saat para koleganya berbicara soal sanksi, di Paris, Menlu Prancis Francois Fillon mengungkapkan bahwa negerinya sedang merancang bantuan kemanusiaan untuk warga Libya. Mereka berencana menerbangkan dokter, perawat, obat-obatan, dan peralatan medis lainnya ke Benghazi, salah satu kota yang menjadi pusat perlawanan terhadap Kadhafi.

"Ini menjadi langkah awal misi kemanusiaan besar-besaran untuk mendukung rakyat Libya," katanya. Fillon mengatakan, Prancis terus menjajaki langkah-langkah yang bisa membuat Kadhafi bisa mengerti. "Bahwa Kolonel Kadhafi harus pergi. Sudah waktunya dia meninggalkan kekuasaan," tambah Fillon.

Kegeraman serupa diungkapkan Menlu Australia Kevin Rudd. Dia menyamakan kebengisan Kadhafi dalam melawan demonstran dengan pembantaian masal di Rwanda, Srebenica (Bosnia), dan Darfur (Sudan). "Atas nama kemanusiaan, turunlah!" seru Rudd di Jenewa.

JENEWA - Desakan terhadap pemimpin Libya Muammar Kadhafi untuk segera mundur dari puncak pemerintahan yang sudah dikangkanginya selama 40 tahun terus

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News